Dari Uang Panai Hingga Women From Rote Island: Suara dari Timur yang Masih Jarang Terdengar

Dari Uang Panai Hingga Women From Rote Island: Suara dari Timur yang Masih Jarang Terdengar

Saya mengawali karier di industri film sebagai promoter film di Makassar pada tahun 2002. Selama periode 2002-2005 puluhan film telah saya tangani promosinya di Makassar dan sejumlah besar di antaranya meraih sukses besar. Sebutlah judul seperti Bangsal 13 yang menjadi film perdana Luna Maya dengan peran utama dan mengerek karier sutradara Ody C Harahap. Sebagian besar produser menganggap Makassar menjadi basis penonton film Indonesia meskipun jumlah bioskop di Makassar/Sulawesi Selatan masih sangat terbatas waktu itu.

Hingga akhirnya revolusi itu datang. Sebuah sistem yang akan merevolusi bagaimana film dibuat hingga didistribusikan. Dari sistem produksi yang harus menggunakan bahan baku film 35/16 milimeter yang menghabiskan biaya milyaran rupiah dari produksi hingga distribusi dan akhirnya sistem digital memangkas biaya tersebut berkali-kali lipat. Produksi film pun menjadi semakin efisien dan menjadi semakin mudah dan murah.

Sistem digital juga mendemokratisasi produksi film yang sebelumnya lebih banyak dilakukan di Jakarta/Jawa. Setelah sistem digital berlaku, produksi film pun menggeliat termasuk di Makassar dan wilayah-wilayah lain setelahnya di Indonesia Timur.

Sebelum sistem digital mulai diadopsi oleh bioskop, sineas film daerah lebih banyak bergelut memproduksi film pendek secara independen. Di tahun 2012, sutradara senior, Arman Dewarti, membesut film panjang Memburu Harimau dan diputar di Gedung Kesenian Makassar selama 6 hari. Terbukti animo masyarakat menyambut film tersebut cukup besar. Dikutip dari komunitasfilm.id, sekitar 6000 lembar tiket ludes terjual dan menjadi indikasi bahwa sudah saatnya film produksi sineas Makassar melenggang ke panggung yang lebih besar: bioskop.

Dan setelah beberapa percobaan, di tahun 2016 momentum itu akhirnya datang dan membukakan mata industri film nasional. Film Uang Panai lahir dari insting bisnis trio Nikky Rewa [sebelumnya pengusaha bioskop], Sunarti Sain [jurnalis senior Harian Fajar] dan sineas muda, Andi Syahwal Mattuju.

Film yang membicarakan polemik soal uang panai yang memang selalu menjadi masalah dari waktu ke waktu bagi anak muda Sulawesi Selatan itu digarap menjadi film komedi yang dekat dan relevan dengan masyarakat. Meski secara teknis terhitung buruk toh tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk menyaksikan film tersebut di bioskop.

Awalnya diputar terbatas, Uang Panai nyatanya mampu beroleh sekitar 300 ribu penonton hanya dalam 10 hari pemutaran. Dan hingga hari ini, Uang Panai masih menjadi film Makassar terlaris dengan rekor perolehan penonton melebihi 600 ribu orang.

Setelah Uang Panai lantas Athirah dan Silariang

Dari Uang Panai Hingga Women From Rote Island: Suara dari Timur yang Masih Jarang Terdengar
Uang Panai. Sumber: Istimewa

Kesuksesan komersial Uang Panai lantas diikuti dua film berlatar Makassar berikutnya masing-masing berjudul Athirah [2016] dan Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui [2018]. Moda produksi Athirah dan Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui berbeda dengan Uang Panai. Jika keseluruhan tim hingga rumah produksi film Uang Panai berasal dari Makassar, maka Athirah justru diproduksi rumah produksi besar, Miles Films dan hanya sebagian kecil menggunakan talent/crew lokal. Sementara Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui diproduksi rumah produksi asal Makassar dan menggunakan talent/crew lokal hingga 95%. 

Baik Athirah maupun Silariang: Cinta Yang Tak Direstui juga memperlihatkan sejumlah aspek menarik dari budaya Bugis Makassar. Dalam film Athirah yang disutradarai Riri Riza, kita melihat bagaimana perempuan Bugis memberdayakan dirinya di tengah keutuhan keluarga yang mendadak hancur berantakan.

Kita melihat sosok Athirah [diperankan dengan sangat baik oleh Cut Mini] menjadi perempuan Bugis yang tetap berusaha menjaga martabat suaminya meski dirinya dikhianati. Kita juga melihat bagaimana sosok perempuan Bugis seperti Athirah bangkit dari keterpurukannya dan mencoba mendidik dirinya menjadi perempuan mandiri. Kelak kewirausahaan ibunya tersebut diikuti oleh anak-anaknya terutama Jusuf [di kemudian hari selain dikenal sebagai pengusaha terkemuka, juga pernah menjadi Wakil Presiden RI]. 

Sementara Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui memberi perspektif yang segar dan menarik seputar silariang [kawin lari]. Sebagian besar generasi muda Bugis Makassar hari ini cenderung berpikir bahwa silariang mengukuhkan kekerasan. Ketika dua keluarga bentrok dan harga diri mereka tercoreng, maka jalan satu-satunya agar harga diri kembali utuh adalah dengan kematian.

Oleh Oka Aurora dibantu saya selaku produser sekaligus warga Bugis Makassar, kami melakukan riset mendalam dengan mewawancarai beberapa pihak, berdiskusi dengan sejumlah pakar budaya hingga membaca sejumlah literatur. Dan kami berkesimpulan bahwa sesungguhnya ada cara lain selain melanggengkan kekerasan pasca terjadinya silariang. Kami mengutip ujaran dari pahlawan asal Sulawesi Selatan, Sultan Alauddin: “Jika harkat dan martabat takkan mungkin lagi ditegakkan, setidaknya tegakkan rasa kemanusiaan.”

Melihat Indonesia Timur dari perspektif dokumenter

Tahun 2017 bisa jadi salah satu tahun paling menarik dalam sejarah sinema Indonesia. Dua film dokumenter berlatar Indonesia Timur dirilis di tahun yang sama dan memperlihatkan wajah Indonesia lainnya yang selama ini belum banyak dikenal.

Salah satu dari antara film dokumenter tersebut berjudul Nokas. Bercerita tentang Nokas, seorang pemuda 27 tahun di Kupang, NTT, yang bekerja sebagai petani, ingin menikahi kekasihnya Ci, gadis cantik yang bekerja di peternakan ayam.

Selain dihantui masa lalu kakaknya yang menjanda karena kehamilan yang tidak berujung pernikahan, Nokas menyaksikan sendiri bahwa tidak mudah menikahi gadis Timor. Pihak keluarga lelaki biasanya diminta untuk membayar mahar kepada orang tua dan saudara pihak perempuan.

Jumlahnya tidak tentu, tetapi seringkali jadi arena negosiasi dan adu kuasa dan gengsi. Dengan pendekatan observasional, film perdana Manuel Alberto Maia ini mengikuti usaha Nokas dalam mensiasati biaya pernikahannya. Salah satu daya tarik film dokumenter berdurasi 76 menit ini bisa jadi karena menggunakan bahasa Helong, salah satu bahasa asli yang digunakan di Nusa Tenggara Timur. 

Film dokumenter lainnya berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail yang mengisahkan bagaimana Kepulauan Banda menjadi rebutan pada abad pertengahan karena menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana pepohonan pala tumbuh.

Banda: The Dark Forgotten Trail tak hanya mengajak penonton menjenguk salah satu pulau yang masuk wilayah administrasi Propinsi Maluku itu namun juga membiarkan penonton bertualang ke masa lalu kala Belanda dan Inggris saling memperebutkan kepulauan Banda. Belanda bahkan merelakan wilayah Nieuw Amsterdam [kini Manhattan, New York] agar bisa mengusir Inggris dari pulau tersebut dan menguasainya.

Dan masa lalu pula yang memberitahukan bahwa sejarah pala di Banda juga adalah sejarah tentang petaka dan trauma. Belanda melakukan genosida [pembasmia] rakyat Banda pada tahun 1621 yang menyebabkan lebih dari 14 ribu warga pribumi meregang nyawa.

Kontroversi penggambaran Indonesia Timur oleh Sineas Jakarta

Salah satu isu yang masih sering muncul terkait film-film berlatar Indonesia Timur adalah penggambaran penduduk asli yang terkesan streotipikal. Dicky Senda, salah satu penggiat kreatif dan penulis asal Nusa Tenggara Timur, sempat mengutarakan keluh kesahnya atas sebuah film yang melakukan pengambilan gambar di Atambua, NTT. Dalam cuitanny-nya bertanggal 12 Oktober 2021 itu, Dicky mengaku kesal. “Suka kesal dengan film Indonesia yang syuting di Timor. Bagaimana tokoh utama [biasanya selebriti ibukota] yang berperan sebagai orang Timor didandani.”

“Apakah kalau bikin film di Timor dan tentang Timor semua tokoh utamanya harus hitam dan berambut keriting/ikal? Muka dan bibir pucat pasi dan gelap? Begitukah imajinasi orang Jakarta tentang orang Timor, “ lanjut Dicky menohok. 

Film yang dimaksud Dicky bisa jadi adalah Cinta Bete besutan Roy Lolang. Film yang mendapat 10 nomine di Festival Film Indonesia 2021 itu juga dikritik secara terbuka melalui Narasi TV. Cinta Bete dinilai memakai perspektif dan standar Jakarta buat merangkai kisahnya. Linda Tagie, pegiat komunitas Lowewini, juga menilai ada kesalahan penggunaan dialek pada film Cinta Bete. Film itu menggunakan dialek Papua padahal latar filmnya di Atambua, NTT.

Pada 10 Juli 2020 The Conversation Indonesia menurunkan secara khusus liputan pendek menyoal bagaimana negara seharusnya memperhatikan representasi Papua yang adil dan humanis dalam bacaan atau tontonan untuk anak-anak. Dan bukan melanggengkan sikap rasis. Dalam liputan tersebut beberapa contoh tontonan disebutkan diantaranya Denias: Senandung di Atas Awan [2006] yang menggambarkan citra anak-anak Papua yang primitif, terbelakang, miskin dan cenderung suka berkelahi. Sementara dalam serial komedi Keluarga Minus [2011] dinilai cenderung menempatkan Papua sebagai bahan olok-olok dan layak ditertawakan. Sekaligus melanggengkan stigma terhadap orang Papua: bodoh dan konyol.

Dari Makassar menyeberang ke Manado dan Palu

Berbeda dengan Uang Panai dan Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui yang membahas persoalan khas yang terjadi di kalangan Bugis Makassar, film Senjakala di Manado [2016] sesungguhnya membahas problem universal yang bisa terjadi di wilayah manapun di negeri ini.

Film yang disutradarai Deni Pusung tersebut bercerita tentang Johny WW Lengkong, seorang pelaut yang telah meninggalkan keluarganya selama hampir 20 tahun, berniat kembali ke Manado dengan harapan keluarganya mau memaafkannya. Namun ternyata istrinya telah meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak bernama Pingkan.

Johny pun berjanji akan merawat Pingkan, tetapi ternyata semua tidak berjalan dengan mudah. Pingkan merasa terganggu tatkala Johny mulai mencampuri urusan asmaranya dengan Brando, kekasihnya, lantaran Johny merasa Brando bukan pria baik-baik. Dari situlah konflik antara ayah dan anak mulai terjadi.

Sementara Mountain Song [2020] dari Palu yang tak dirilis secara luas di jaringan bioskop justru memberikan suara yang segar dari wilayah timur negeri ini. Film yang disutradarai Yusuf Radjamuda tersebut bercerita tentang Gimba, anak laki-laki pemalu yang berusia 6 tahun.

Gimba tinggal bersama ibunya yang berusia 45 tahun dan sedang sakit di daerah terpencil pegunungan Pipikoro, kecamatan Sigi, Sulawesi Tengah. Desa itu terisolasi dan memiliki kesulitan akses ke dataran rendah.

Sulitnya akses tersebut membuat banyak warga dari desa tersebut meninggal dunia dalam perjalanan ke dataran rendah, salah satunya ayah Gimba. Sejak saat itu, Gimba tidak ingin jauh dari ibunya. Ia selalu membawa ibunya menggunakan taitu, sang ibu mengajarkan Gimba sebuah lagu yang dipercaya dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan ketika sendiri. Mountain Song beroleh apresiasi positif di Festival Film Indonesia 2020 dengan beroleh 3 nomine.

Soal Orpa, Women From Rote Island dan Festival Film Indonesia

Dari Uang Panai Hingga Women From Rote Island: Suara dari Timur yang Masih Jarang Terdengar
Orpa

Pada 7 September 2023 lalu, perfilman Papua melahirkan sejarahnya sendiri dengan merilis film fiksi panjang yang disutradarai sineas asli Papua. Film tersebut juga beredar di sejumlah jaringan bioskop utama. Judulnya Orpa yang disutradarai Theo Rumansara. Theo yang lahir di Biak, Papua, sebelumnya memenangiJendela Papua, sebuah program pencarian bakat dan lab pembuatan film, pada tahun 2020. 

Orpa menuturkan kisahnya dari sudut pandang Orpa [diperankan dengan menarik oleh pendatang baru, Orsila Murib yang juga asli Papua], gadis remaja yang sesaat lagi lulus SD. Digambarkan sebagai remaja yang cerdas dan suka membaca, Orpa bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, mimpi Orpa tak sesederhana yang bisa dibayangkan oleh kita yang hidup di kota besar. Orpa harus berhadapan dengan dua hal: paksaan dari ayahnya untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya dan ia harus keluar dari desanya untuk menuju ke kota di mana sekolah menengah pertama berada.

Selain Orpa, melalui program Jakarta Film Week pada akhir Oktober 2023 memutar Women From Rote Island untuk pertama kalinya di Indonesia. Film yang disutradarai Jeremias Nyangoen itu menuturkan kisahnya dari sudut pandang karakter yang juga bernama Orpa, seorang ibu yang terlalu sibuk mengurus kematian suaminya sehingga ia abai dengan kondisi putri sulungnya, Martha. Orpa juga masih harus mengurus putri bungsunya, Bertha, yang masih bersekolah. 

Orpa baru tersadar betapa abainya ia dengan kondisi Martha ketika tahu putrinya itu diperkosa. Tapi bak jatuh tertimpa tangga, Martha yang membela diri dengan menusuk pemerkosanya malah harus menerima hukuman dirantai. Ia dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya. Martha yang tak stabil tak bisa bersuara. Sesekali ia menggigil ketakutan ketika memori buruk dari masa lalunya semasa menjadi buruh migran ilegal di Malaysia kembali menghampiri. Tapi Orpa yang hanya perempuan tanpa pendidikan yang cukup tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia juga tak protes ketika Martha harus dirantai. 

Menariknya baik Orpa maupun Women From Rote Island direkognisi oleh Festival Film Indonesia tahun ini. Begitupun Orpa hanya beroleh nomine Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Arnold Kobogau dan juri FFI tak meloloskan Orsila Murib yang bermain cemerlang. Sementara Women From Rote Island beroleh 4 nomine dan sayangnya sama sekali tak meloloskan Linda Adoe untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik yang rasanya menjadi salah satu penampilan terbail di film Indonesia tahun ini. Juri FFI juga tak meloloskan Irma Rihi yang tak saja berakting cemerlang namun juga total untuk kategori Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik.

Begitupun lolosnya Orpa dan Women From Rote Island bisa jadi sinyalemen positif bagi film-film dari Indonesia Timur agar suara-suara yang masih jarang terdengar dari sana bisa diteriakkan lebih keras lagi.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.