Fakta-Fakta Unik Tentang Film Dirty Vote (2024)

Sudahkah kamu menonton Dirty Vote (2024)? Film yang disutradarai oleh Dandhy Laksono ini sangat viral hingga meraih lima juta penonton hanya dalam sehari semenjak penayangannya di YouTube. Bukan dokumenter pada umumnya, ada beberapa pengalaman menonton unik yang bisa kamu dapatkan saat menonton film ini.

Sebagai dokumenter, apa saja fakta-fakta menarik tentang film Dirty Vote ini? Sebelum nonton, simak dulu, yuk!

Fakta unik film Dirty Vote (2024)

Film Dokumenter dengan Pendekatan Unik

Dirty Vote
Film Dirty Vote via Istimewa

Sebagai film dokumenter, Dirty Vote mengambil pendekatan yang jarang dipakai. Enggak ada perpindahan tempat, enggak ada perpindahan suasana, enggak ada reka adegan yang mengilustrasikan suatu kejadian nyata, enggak ada musik dramatis. Dirty Vote, tampil berbeda dengan menyajikan konsep lecture video, konsep yang jarang dipakai untuk sebuah film.

Konsepnya, mungkin agak sama dengan karya-karya berlabel stand-up di Netflix yang biasanya hanya menyajikan rekaman stand-up comedy seorang tokoh di satu tempat, atau video pengajaran/pengembangan diri yang menghadirkan tokoh-tokoh dengan keahlian tertentu dan membahas lebih dalam tentang topik tertentu, masih di satu tempat, biasanya dengan tambahan presentasi untuk memperjelas apa yang ingin disampaikan. 

Yang menggulirkan plotnya bukan deretan visualisasi kejadian tertentu atau character development dari para tokoh, tetapi justru dari konten yang sedang dibahas lewat slide show.

Presentasi Tiga Pakar Hukum Sebagai Fokus Utama

Film Dirty Vote via YouTube

Seperti influential/lecture videos yang ada di YouTube dan platform streaming lainnya, Dirty Vote menghadirkan para ahli sebagai spotlight utama. Mengingat fokus pembahasan dari film ini adalah tentang pelanggaran hukum, maka para ahli yang berbicara pun adalah ahli di bidang hukum. Mereka adalah Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M., akademisi, dan pakar Hukum Tata Negara Indonesia, kemudian Bivitri Susanti, S.H., LL.M., pakar hukum tata negara dan pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan, serta Feri Amsari, S.H., M.H., LL.M., aktivis hukum dan dosen Universitas Andalas.

Sepanjang durasi kurang lebih 1 jam 57 menit, kita memang hanya melihat pemaparan dari mereka bertiga.

Kunci dari film ini adalah slide demi slide presentasi yang mereka tunjukkan dan berisi tentang berbagai pelanggaran, mulai dari pelanggaran konstitusi sampai kewenangan dari berbagai macam pihak.

Mencoba Jujur dalam Membangun Suasana

Studio Film “Dirty Vote” via Istimewa

Pengambilan gambar dilakukan di dalam studio dengan kesan apa adanya. Maksudnya, film ini enggak mencoba untuk menonjolkan fabrikasi atas kenyataan atau hiperealitas. 

Di dalam film ini, kendati yang menjadi spotlight adalah ketiga pakar hukum tersebut, tetapi kita juga diperlihatkan aktivitas para kru, kabel yang menjuntai, dan lighting yang juga ikutan terekam. Bahkan, ketiga pembicara pun sempat duduk, “rehat” sejenak dari presentasi, dan hal itu juga diperlihatkan tanpa adanya pemotongan. Penonton juga bisa mendengar pembicaraan kru yang “bocor” dan enggak ada hubungannya dengan premis dari film itu.

Bagi kita yang terbiasa menonton film dengan efek-efek tertentu dan editing yang ketat, konsep seperti ini mungkin terasa asing. Kita terbiasa mengasosiasikan wacana di dalam film dengan gambaran-gambaran visual. 

Contohnya, saat kita menonton dokumenter kejahatan, walaupun kejahatan itu jelas enggak terekam, kita lebih “nyaman” disuguhi reka ulang adegan oleh aktor atau ilustrasi, sehingga kita bisa terbawa masuk kepada kenyataan itu. Atau, kita juga biasa melihat campuran narasi dengan footage-footage tertentu seperti pemandangan alam atau keramaian.

Melepaskan Diri dari Hiperrealitas Film

Kenapa harus konsep presentasi? Lewat cara ini, film bisa jadi ingin menyampaikan realita dengan cara yang apa adanya, sehingga penonton berfokus pada informasi riil yang mereka sampaikan dan melihat bahwa semua kru pun terlibat bahu-membahu di dalamnya, bertujuan untuk menyingkap penyalahgunaan wewenang dari berbagai pihak. Dunia yang kita diami memang seperti ini: enggak selalu rapi, enggak selalu cerah, dan enggak selalu tertata. Just the way it is.

Presentasi via Istimewa

Bicara soal realita, fokus yang diangkat dalam presentasi film sebetulnya sudah banyak dimuat dalam berbagai jenis media, mulai dari media elektronik sampai media daring yang terdaftar di Dewan Pers. 

Maka dari itu, tugas film ini sebetulnya adalah membuat ringkasan kenyataan yang urut dan tujuannya bukan untuk “membuka tabir”, tetapi mendokumentasikan kenyataan dengan runtut supaya penonton memahami pokok masalahnya dari awal. Namun, bukan cuma mengutip, penjelasan dari para pakar hukum ini bikin kita jadi lebih melek soal isu-isu politik, seperti peraturan kemenangan pasangan calon (yang rinciannya enggak banyak dipahami orang) hingga istilah seperti kebijakan/politik gentong babi.

Background Hitam, Baju Gelap, Suasana Muram

Suasana yang terasa dalam Dirty Vote adalah suasana gloomy sejak awal film ini dibuka. Para pakar mengenakan baju gelap, dengan latar studio yang gelap, lighting yang enggak terang-terang amat. 

Justru, subjek yang paling terang di film ini cuma presentasi yang sebagian besar didominasi oleh warna putih, menciptakan kesan kontras dan memberikan kesan bahwa di dalam “ruang” yang gelap, presentasi ini menjadi pencerah, semacam enlightment.

Pemaparan Dirty Vote via YouTube

***

Secara keseluruhan, Dirty Vote memberikan pembaruan dalam dunia perfilman Indonesia. Film ini enggak memakai pakem yang biasa digunakan dalam karya-karya visual, –enggak ada efek khusus atau scoring dramatis. Ini bisa menjadi sesuatu yang terasa asing, tetapi juga bisa menjadi suatu hal yang kreatif dan unik.

Nah, buat kamu yang mau menonton Dirty Vote, kamu bisa search akun YouTube PSHK Indonesia dan mencari judul film ini di sana. Share pendapatmu, yuk!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.