Alasan Mengapa Black Panther: Wakanda Forever Berbeda dari Film Superhero Pada Umumnya

Black Panther: Wakanda Forever, resmi dirilis pada tanggal 9 November 2022 di Indonesia dan menjaring banyak review positif dari penonton. Cerita yang kuat dan tokoh-tokoh menarik adalah beberapa kunci yang bikin Wakanda Forever menjadi film superhero yang cukup unik.

Masih ada beberapa hal lain yang bikin Wakanda Forever menjadi film superhero yang cukup unik. Jika kamu belum nonton Wakanda Forever, inilah film ini layak untuk mendapatkan perhatianmu.

*(SPOILER ALERT) Review film Black Panther: Wakanda Forever ini sedikit mengandung bocoran yang semoga saja enggak mengganggu buat kamu yang belum nonton.

Bukan Sekadar Aksi, Tetapi Kenangan

Istimewa
Istimewa

Meninggalnya Chadwick Boseman pada tahun 2020 lalu karena kanker usus besar membuat Wakanda Forever enggak dapat menghadirkan lagi sosok Black Panther T’Challa. Pada akhirnya, tentu ada banyak hal yang harus diubah dari rencana naskah awal Wakanda Forever.

Alih-alih mengganti cast T’Challa atau memaksakan skenario meninggalnya T’Challa, Wakanda Forever menjadikan film ini sebagai obituari yang manis. Semua hal yang terjadi di film ini enggak bisa dilepaskan dari kepergian penguasa Wakanda tersebut.

Penyebab kematian T’Challa pun digambarkan hampir sama dengan kematian Boseman, dan bagaimana ia enggak dapat diselamatkan, punya alasan yang kuat dan terasa enggak dibuat-buat.

Film ini, alih-alih hanya menjadikan kematian Boseman sebagai komoditas, justru menjadi obituarium yang menarik serta mengharukan.

Tokoh antagonis yang realistis dan memancing empati

Istimewa
Istimewa

Saat kamu melihat Ronan the Accuser bahkan Thanos misalnya, kamu mungkin enggak akan pernah bisa memihak ke mereka. Alasan Thanos menghilangkan banyak orang untuk membuat semesta berbenah pun enggak akan pernah mampu menjaring empati siapa pun.

Ini tentu berbeda dengan deretan antagonis dalam franchise Black Panther. Sejak dari Killmonger / N’ Jadaka (Black Panther) kita sudah disajikan sosok antagonis yang bikin kita kasihan. Killmonger sendiri memang punya alasan kuat membenci Wakanda dan menjadi kejam: ia merasa dibuang. Penonton dibuat berempati dengan bagaimana megahnya Wakanda seolah berbanding terbalik dengan Killmonger yang harus hidup di area slum dengan ayahnya –walaupun ayahnya bersalah–.

Dalam film ini, tokoh antagonis Namor pun seolah layak untuk didukung. Kejahatannya bukan karena ia tamak: justru dunia yang tamak kepada mereka. Karakter abu-abu inilah yang bikin Wakanda Forever masuk ke dalam dimensi berbeda, lebih dari sekadar film dengan plot driven. Walaupun mungkin agak enggak bikin santai, tokoh antagonis yang kompleks membuat film menjadi kaya.

Penuh intrik politik yang realistis

Via Istimewa

Di dunia nyata, banyak negara dengan kekayaan alam yang dieksploitasi habis-habisan oleh “negara-negara lain”, bahkan dicari celahnya agar bisa diserang dan dikuasai. Sumber daya kayak minyak misalnya, bisa bikin suatu negara yang kaya diadu domba habis-habisan hingga runtuh. 

Agaknya, kasus dalam Wakanda ini cukup terinspirasi dari kekejaman kenyataan semacam itu. Tentu kamu tahu bahwa diam-diam, Wakanda adalah negara kaya dan di akhir Black Panther pertama, mereka baru membuka diri atas hal itu.

Rupanya, hal itu malah membuat dunia “meminta” Wakanda untuk sharing, dalam film ini, yang dimaksud adalah sumber daya berupa vibranium. Padahal, jika vibranium itu dibagi, belum tentu juga efeknya baik, bahkan bisa disalahgunakan.

Vibranium inilah yang bikin Wakanda jadi perang sama Talokan, negeri bawah laut yang dipimpin oleh mutan Namor. Sama-sama memiliki vibranium, nyatanya Talokan memiliki pandangan agak berbeda dengan Wakanda soal menjaga sumber daya alamnya ini, mencetuskan perang di antara mereka.

Kalau negara lain kayak Amerika Serikat enggak pernah meminta pembagian vibranium, perang ini pasti enggak pernah ada. Karena, yang awalnya bikin bangsa Talokan ngamuk adalah alat detektor vibranium yang dibuat Amerika Serikat.

Vibranium sendiri merupakan jenis logam fiktif yang sangat kuat, menyuburkan tanah, dan membuat teknologi di Wakanda menjadi maju. Tentu bisa dibayangkan kalau negara-negara di luar Wakanda punya logam ini. Alih-alih damai, bisa-bisa disalahgunakan untuk perang.

Memiliki kesan feminis tanpa porsi berlebihan

Via Istimewa

Akhir-akhir ini, banyak film Hollywood yang menyebalkan karena terlalu menggaungkan feminisme dengan cara yang memaksa, bahkan jatuhnya menjadi feminazi. Peran perempuan “diada-adain”, dipaksa terlihat lebih kuat dari lelaki dengan segala jargon, hanya supaya terlihat bahwa perempuan bisa kuat. Nyatanya, banyak film yang justru terkesan enggak realistis dan bikin geregetan karena memaksakan konsep women empowering.

Bagusnya, sejak awal Black Panther enggak pernah memaksakan konsep ini dan justru menimbulkan kesan feminis yang kuat serta natural. Sejak awal, penguasa Wakanda adalah pria. Namun, perempuan juga punya peran, seperti Okoye yang menjadi Jenderal Dora Milaje atau Nakia yang menjadi spy. Queen Ramonda, bukan digambarkan sekadar “pendamping”, tetapi merupakan ratu yang kuat secara mental dan juga pintar.

Shuri, yang digital native dan sangat mahir dalam bidang teknologi, menjadi pahlawan pada sekuel kedua ini tanpa perlu terlihat maksa. Ia terlihat kuat karena memang ia pintar dan keadaan memaksanya untuk begitu. Semua hal yang ia lakukan bukan untuk membuktikan bahwa cewek itu kuat, tetapi untuk alasan-alasan yang lebih besar, bahkan menyangkut hubungan negara.

Resolusi konflik yang menarik

Via Istimewa

Resolusi konflik dalam Wakanda Forever ini cukup “damai”. Pada akhirnya, pesan yang diberikan kepada penonton adalah bahwa kekuatan sebesar apa pun enggak akan mampu membawa kedamaian. Kekuatan yang justru lebih ampuh adalah diplomasi, sekaligus mampu memaafkan. Inilah kekuatan yang pada akhirnya dimiliki Shuri dan membuatnya semakin memesona. Shuri enggak cuma pintar dan mewarisi apa yang ditinggalkan ayah serta kakaknya, tetapi juga mewarisi kebaikan hati sang kakak.

Resolusi dari konflik ini juga merupakan penutup manis dari emotional journey kuat bagi tokoh-tokohnya, terutama Shuri. Sehingga, bukan cuma tentang perang hitam lawan putih, Wakanda Forever adalah sebuah perjalanan: perjalanan tentang mengingat, tentang merelakan, tentang berdamai sama apa yang ada di dekat kita.

Sebagai penutup Phase 4, Wakanda Forever adalah film yang cukup emosional dengan storyline yang kuat. Jika kamu bosan dengan film-film aksi pahlawan yang gitu-gitu aja, Wakanda Forever bisa membawa kamu untuk berpetualang baik secara visual di tengah keindahan Wakanda-Talokan, serta berpetualang menjelajahi perasaan yang kompleks.

Jangan lupa untuk terus pantau KINCIR agar kamu enggak ketinggalan informasi seru seputar film lainnya! 

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.