kelebihan serial live action avatar netflix

5 Alasan yang Bikin Live Action Avatar: The Last Airbender Jadi Lebih Menarik dari Versi Kartunnya

Serial live action Avatar: The Last Airbender telah rilis di Netflix sejak 22 Februari lalu. Serial live action yang diadaptasi dari kartun berjudul sama ini pun mendapat respons yang cukup bercampur dari kritikus dan penonton. Sebagian penonton memang ada yang kurang suka dengan adaptasi live action ini karena terdapat beberapa aspek yang dianggap mengganggu.

Terlepas dari kritikan tersebut, memang tak bisa dipungkiri kalau ada beberapa elemen menarik dari serial live action Avatar: The Last Airbender. Bahkan, kalau bisa dibilang sejumlah hal tersebut berhasil membuat live action-nya jadi terasa sedikit lebih baik ketimbang versi kartunnya yang sangat legendaris.

Nah, berikut ini KINCIR akan membahas sejumlah hal yang bikin live action Avatar: The Last Airbender jadi sedikit lebih menarik dari versi kartunnya. Yuk, simak!

Hal menarik di live action Avatar: The Last Airbender versi Netflix

1. Momen pembantaian Pengembara Udara yang digambarkan secara brutal

Istimewa

Dalam versi kartunnya, seluruh Pengembara Udara yang merupakan kaumnya Aang dikisahkan tewas akibat dibantai pasukan dari Negara Api. Hal ini dilakukan oleh Negara Api untuk turut membunuh Avatar yang saat itu sudah diketahui akan berasal dari kaum Pengembara Udara. Namun, ternyata saat itu Aang selaku sang Avatar tak ada sewaktu pembantaian, sehingga membuatnya jadi Pengembara Udara terakhir.

Momen pembantaian Pengembara Udara oleh Negara Api pun tidak diperlihatkan sama sekali di versi kartunnya, karena memang merupakan tontonan untuk anak kecil. Meski begitu, pada episode pertama serial live action-nya kita langsung diperlihatkan dengan momen pembantaian tersebut secara brutal. Nuansa kelam inilah yang bikin serial live action-nya jadi terasa lebih menarik dari kartunnya.

Sebab, lewat momen pembantaian ini kita jadi bisa melihat semengerikan apa pasukan Negara Api dan juga setragis apa nasib dari para Pengembara Udara di momen-momen terakhir mereka. Apalagi, momen pembantaian Pengembara Udara bisa dibilang merupakan momen penting dan jadi titik awal dari cerita The Last Airbender sehingga rasanya memang pas untuk diperlihatkan secara apa adanya.

2. Kengerian Avatar Kyoshi yang ditampilkan dengan badass

Istimewa

Sebelum Aang, ada beberapa orang yang menjadi Avatar, salah satunya adalah Kyoshi yang berasal dari Kerajaan Bumi. Berbeda dengan sejumlah Avatar lain yang terkesan diplomatis dalam menyelesaikan masalah, Kyoshi justru sering dianggap sebagai Avatar yang ‘bar-bar.’ Hal ini karena Kyoshi menganggap membunuh musuh sebagai solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah, dan bahkan kerap menyarankan Aang untuk lebih tega membunuh.

Namun, di versi kartunnya kebrutalan Kyoshi tersebut hanya diketahui lewat cerita dan tak ada penggambaran secara visual. Hal ini lagi-lagi terjadi karena adanya bentrok dengan rating usia penonton yang khusus buat anak kecil. Beruntungnya, kita bisa melihat momen kebrutalan Kyoshi yang sesuai dengan legendanya tersebut lewat serial live action-nya ketika ia merasuki tubuh Aang dengan mode Avatar State.

Momen Kyoshi melawan sejumlah pasukan Negara Api di Pulau Kyoshi pun digambarkan dengan cara yang badass dan benar-benar sesuai dengan legendanya. Selain itu, kita juga sempat mengetahui latar belakang Kyoshi sebelum akhirnya diumumkan sebagai seorang Avatar lewat live action ini, sementara di kartunnya tidak sama sekali.

3. Duel Zuko dan Ozai yang dijelaskan lebih lengkap

Zuko merupakan karakter penting dalam cerita The Last Airbender. Sebab, meski sempat memburu Aang, ia akhirnya bergabung dengan tim Avatar dan memiliki peran penting bagi perjalanan Aang. Zuko pun identik dengan luka yang berada di bagian mata sebelah kirinya.

Dalam serial animasinya, luka di mata tersebut adalah hasil kekejaman ayahnya Zuko, yaitu Raja Api Ozai. Hal ini terjadi setelah Ozai menantang Zuko untuk berduel Agni Kai, akibat Zuko dianggap tidak menghormati ayahnya sewaktu rapat strategi perang. Di serial live action-nya, Zuko juga diajak duel Agni Kai oleh Ozai karena tidak setuju dengan strategi perang yang mengorbankan Divisi 41 sebagai tumbal.

Namun, alasan Zuko mendapat luka di matanya bukan karena sekadar kalah bertarung dengan sang ayah. Sebab, hal ini terjadi karena Zuko sempat menahan diri untuk menembak bagian mata kiri Ozai sewaktu berduel karena tidak tega. Ozai kemudian akhirnya membakar mata kiri Zuko karena menurutnya menahan diri adalah bentuk dari sifat lemah seseorang.

Setelah kalah berduel, Zuko pun akhirnya dibuang oleh Ozai seperti pada versi kartunnya. Namun, di versi live action-nya kembali diceritakan bahwa Divisi 41 yang sempat akan ditumbalkan justru menjadi awak kapal Zuko untuk mencari Avatar. Tambahan latar belakang cerita ini pun membuat kita jadi lebih peduli lagi dengan sosok Zuko, serta semakin paham mengapa Paman Iroh sangat menyayanginya.

4. Hubungan Ozai dengan kedua anaknya

Baik dalam versi kartun atau live action-nya, Raja Api Ozai dikisahkan memiliki dua anak, yaitu Zuko dan Azula. Namun, di versi kartunnya perlakuan Ozai terhadap kedua anaknya bisa dibilang sangat berbeda dengan versi live action-nya.

Di kartunnya, Ozai sejak awal digambarkan seolah sangat tidak suka dengan Zuko sejak kecil, meski merupakan anak pertamanya dan akan jadi pewarisnya. Sementara itu, Ozai terkesan sangat bangga dengan Azula. Bahkan, pada kartunnya Ozai kabarnya pernah berkata, “Azula lahir dengan keberuntungan, sedangkan Zuko beruntung karena sudah dilahirkan.”

Pada versi live action-nya, Ozai akhirnya memang membuang Zuko. Namun, Ozai versi live action enggak digambarkan membenci Zuko tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan, di bagian awal serialnya, Ozai lebih terkesan seperti ayah yang punya sifat tegas terhadap Zuko, bukan sekadar abusif.

Lalu, Ozai juga enggak terlalu menganggap Azula sebagai anak emas. Pada beberapa momen Ozai bahkan sempat terlihat kecewa dengan Azula karena dianggap belum bisa mencapai potensi terbaiknya. Penggambaran ini pun membuat sosok Ozai di versi live action-nya lebih terasa menarik karena bukan sekadar sosok yang abusif yang jadi antagonis ceritanya.

5. Persahabatan antara Aang dengan Gyatso yang terasa lebih mendalam

Selain hubungan Ozai dengan kedua anaknya, ada juga hubungan dari karakter lain yang bikin versi live action-nya jadi lebih menarik. Hubungan yang dimaksud adalah persahabatan antara Aang dengan Gyatso yang juga merupakan seorang Pengembara Udara. Selain sahabat, Gyatso juga bisa dibilang sudah menjadi sosok mentor bagi Aang.

Pada versi kartunnya, persahabatan antara Aang dengan Gyatso enggak terlalu digambarkan secara lebih detail. Mereka hanya dikisahkan sangat dekat, sampai membuat Aang akhirnya kabur dari Kuil Udara Selatan akibat tak mau dipisahkan dengan Gyatso ketika harus menjalani latihan sebagai Avatar. Namun, di versi live action-nya persahabatan antara Aang dengan Gyatso bahkan sudah sampai ke dunia spiritual.

Sebab, Aang bertemu kembali dengan Gyatso ketika ia sedang berada di dunia roh. Gyatso juga mengatakan pada Aang bahwa ia tidak harus merasa bersalah atas kemusnahan kaum Pengembara Udara karena memang bukan kesalahannya. Hubungan Aang dan Gyatso yang digambarkan lebih mendalam di live action-nya ini pun terasa lebih berdampak bagi perjalanan sang Avatar ke depannya.

***

Nah, itulah sejumlah alasan yang bikin live action Avatar: The Last Airbender jadi sedikit lebih menarik ketimbang versi kartunnya. Apakah kamu sepakat dengan sejumlah alasan tersebut? Share pendapat kamu dan ikuti terus KINCIR untuk artikel menarik seputar serial lainnya, ya!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.