Review Serial One Piece Episode 2: The Man in the Straw Hat

Review Serial One Piece Episode 2: The Man in the Straw Hat
Genre
  • live action
  • petualangan
Actors
  • Emily Rudd
  • Inaki Godoy
  • Jacob Romero Gibson
  • Mackenyu
  • Taz Skylar
Director
  • Marc Jobst
Release Date
  • 31 August 2023
Review One Piece Live Action episode 2
Rating
4.1 / 5

Memasuki episode 2, live action One Piece masih memegang konsistensi cerita yang diadaptasi dari manga maupun animenya. Di episode 2, Buggy jadi sorotan utama berkat kemunculannya yang mengesankan. Kehadiran Buggy jadi ornamen penting bagi kelangsungan saga pertama One Piece yaitu East Blue, tempat cerita bajak laut topi jerami dimulai.

Perebutan peta menuju Grand Line jadi persoalan utama di episode 2 ini. Kru topi jerami dan awak Buggy memasuki pertarungan penting. Semua berawal ketika Luffy, Nami, dan Zoro mencuri kapal dari salah satu kru Buggy hingga akhirnya mereka terperangkap dalam sebuah sirkus milik sang badut.

Singkat cerita, kru topi jerami berhasil lolos dan melanjutkan pertarungan hingga ke Arlong Park, markas bajak laut Arlong, tempat di mana Nami menyimpan semua gambaran peta miliknya. Di momen ini juga jadi awal keyakinan Nami untuk bergabung bersama Luffy dan Zoro untuk menemukan harta karun “One Piece” tersebut.

Untuk mengetahui ulasan lengkap One Piece episode 2. Simak artikel berikut ini.

Review Serial One Piece Episode 2: The Man in the Straw Hat

Penampilan Buggy sebagai antagonis major pertama yang sangat apik!

Live action One Piece
Kemunculan Buggy dalam live action One Piece. Via Istimewa.

Seperti yang tadi telah dijelaskan, kehadiran Buggy merupakan hal penting bagi kelangsungan saga. Buggy merupakan mantan kru bajak laut Gol  D. Roger bersama dengan Shanks. Lewat Buggy, penonton diberikan penjelasan lebih lanjut apa itu Grand Line dan seberapa krusial harta karun “One Piece” tersebut.

Membahas sosok Buggy, ia jauh dari sosok jenaka nan konyol seperti di Anime. Rasanya, ia lebih psikopat di live action tersebut. Apakah hal ini mengacaukan entitas Buggy? Jawabannya tidak. Di momen ini, Ian Stokes sebagai penulis tetap menyematkan karakteristik komedi namun terasa lebih gelap. Gambarannya kurang lebih mirip Joker yang diperankan Heath Ledger dalam The Dark Knight (2008).

Kamu memang enggak akan menemukan Buggy yang kelewat percaya diri dengan kekuatannya namun berujung konyol. Ia dijadikan sebagai sosok antagonis yang cukup menakutkan. Apalagi di dalam sirkus tersebut sudah menguasai Shells Town dan mengikat semua warganya sebagai penonton paksaan. Terlebih, dialog yang ditampilkan Buggy kentara lebih ambisius soal mendapatkan harta karun Gold Roger.

Marc Jobst sebagai sutradara patut diacungi jempol soal penghadiran “Lord Buggy” ini. Pengubahan karakter dari manga ke versi live action benar-benar jadi kejutan yang menyenangkan.

Perkembangan cerita yang makin menarik

Alur cerita live action One Piece Netflix. Tangkapan Layar

Memasuki pembahasan pengembangan cerita, ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas. Selain pertarungan di tempat Buggy, jauh di sisi lain East Blue, Coby lagi diinterograsi oleh Garp dan Bogart. Si anak culun ini mendapatkan highlight yang cukup krusial tentang bagaimana ia bisa masuk Angkatan Laut bersama dengan Meppo.

Oia, Garp juga ditampilkan sebagai sosok yang agak lebih serius. Meskipun ada sedikit konyolnya, Garp di sini seperti kakek-kakek kuat nan bijaksana. Contohnya ketika Coby memberitahu bahwa bajak laut topi jerami bernama Luffy, yang merupakan cucunya. Ada gelagat kesal yang mencirikan Garp namun sepertinya sang aktor, Vincent Regan masih ingin bermain-main dalam keseriusan si legenda hidup Angkatan Laut tersebut.

Kisah kilas balik Luffy dan Shanks juga ditampilkan pada episode ini, enggak di awal seperti pada manga maupun animenya. Momen putusnya tangan Shanks demi melindungi Luffy dari monster laut enggak gagal sama sekali. KINCIR merasa adegan ini dibuat lebih logis karena si monster tidak dibikin melotot ketika tahu yang ia gigit adalah Akagami no Shanks. Tapi, presensi kekuatan Shanks yang ditunjukkan pada adegan ini lebih terasa ketika mengendalikan monster laut tersebut.

Di sisi lain, Marc Jobst sebagai sutradara dan Ian Stokes sang penulis naskah sepertinya ingin lebih straight ke fokus linear cerita. Mereka memotong beberapa adegan filler pada anime dan manga dan langsung mengurut perjalanan Luffy dengan menyematkan elemen adegan-adegan krusial saja.

Hal ini masih bisa diawajari, toh, pada versi anime pun ada beberapa adegan yang ditambahkan pada saga East Blue ini. Selama tidak menghilangkan benang merah, rasanya masih aman meskipun kita kehilangan sosok Chouchou, anjing penjaga toko makanan hewan peliharaan.

Kemudian, dari sisi penceritaan perjalanan Luffy dan kawan-kawan ada beberapa elemen khas Oda Sensei yang tetap diimpelementasi oleh Marc Jobst. Contohnya, adegan yang lompat-lompat untuk menguatkan informasi cerita. Seperti ketika Luffy bertarung dengan Buggy, tiba-tiba masuk ke adegan interogasi Coby dengan Garp atau ketika adegan Zoro dengan Cabaji sedang berhadapan, adegan berpindah ke Meppo yang diomeli sang ayah yaitu Kapten Morgan.

Intinya, rasa dalam cerita One Piece episode 2 ini enggak hilang, bobot emosionalnya masih dalam takaran pas. Kamu enggak akan dibawa seperti memasuki serial lain yang berbeda dengan karakter “cosplay”. Enggak salah memang jika Oda Sensei memantau langsung selama proses syuting berjalan agar semuanya tetap memiliki keterikatan dengan versi aslinya.

Live Action One Piece terlihat agak berjuang menyesuaikan medium barunya

Terlepas dari kerelasian dengan versi manga. Serial adaptasi ini terlihat agak berjuang keras untuk menyesuaikan dengan medium barunya. Marc Jobst benar-benar ingin ini semua masih terlihat logis dan enggak aneh. Mungkin beberapa dari kamu yang setia pada karya ikonis Oda Eiichiro ini harus menurunkan ekspektasi untuk adegan-adegan luwes yang ada di versi anime.

Soalnya, masih ada saja komentar “berantemnya kaku”, atau masih ada yang merasa agak aneh melihat tangan Luffy bisa memanjang ketika dipindah ke 3D. Hal ini yang masih agak kentara. Marc Jobst sepertinya akan tetap mengedepankan logika jagat One Piece di dunia nyata.

Lika-liku live action memang rumit. Di satu sisi ada fans yang ekspektasinya harus disuapi, di sisi lain sang sutradara perlu mempertahankan logika. Persoalan mana yang menang, tentu para penggemar harus didahulukan. Akan tetapi, untuk serial ini sang sutradara berhasil mendobrak belenggu live action harus solid dengan animasinya.

Pada dua episodenya, kita bisa melihat bahwa hasil produksinya tetap membawa kesenangan. Ketertarikan pasar terhadap serial ini ternyata cukup besar, lagipula banyak juga yang suka mempertanyakan live action jika terlalu jiplak dengan animasinya.

***

Anime ini masih terbilang ramah buat kamu yang enggak ngikutin One Piece sama sekali. Soalnya yang diadaptasi pun masih awal-awal, enggak akan bikin kamu jadi ketinggalan keseluruhan arc maupun saga-nya. Grafis pun masih konsisten, meskipun dibalut dengan gelap yang dominan, tapi hal ini menguatkan presensi Buggy yang jadi villain besar.

Sejauh ini serial One Piece masih memberikan banyak kesenangan di dalamnya. Adegan-adegan komedinya memang dikurangi, tapi enggak dirasa enggak akan sampai mengkualifikasi penggemar seitanya.

Kalau menurut kamu gimana soal episode dua serial One Piece ini? Kunjungi terus KINCIR agar kamu tahu informasi seru lain seputar serial dan film.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.