Review Film Animasi The Boy and the Heron

Review Film Animasi The Boy and the Heron

The Boy and the Heron
Genre
  • animasi
  • fantasi
Actors
  • Aimyon
  • Masaki Suda
  • Soma Santoki
  • Yoshino Kimura
Director
  • Hayao Miyazaki
Release Date
  • 13 December 2023
Poster The Boy and the Heron.
Rating
4 / 5

*Spoiler Alert: Review film animasi The Boy and the Heron mengandung bocoran yang bisa saja mengganggu kamu yang belum menonton.

Rasanya karya Hayao Miyazaki sudah tidak perlu kita ragukan lagi. Sekali lagi, ia menghipnotis para penontonnya lewat The Boy and the Heron. Bagi saya yang adalah penikmat film ringan, rasanya The Boy and the Heron membawa saya kepada pengalaman menonton bak menelusuri berbagai makna hidup.

Film animasi ini berkisah tentang Mahito Maki (Soma Santoki) yang mau tak mau berpindah ke sebuah desa lantaran ibunya meninggal dalam kebakaran di rumah sakit, Tokyo. Ia tinggal bersama ayahnya yang kini menikahi Natsuko (Yoshino Kimura) yang adalah bibinya sendiri. Berlatar Perang Dunia II, ayahnya adalah seorang pembuat pesawat militer Jepang.

Review film animasi The Boy and the Heron

Dimulai dari tragedi yang bikin kita masuk ke POV Mahito

Sumber: Istimewa.

The Boy and the Heron dimulai dari Mahito yang terbangun karena mendengar kabar bahwa RS tempat ibunya bekerja kebakaran. Hisako, ibu dari Mahito jadi salah satu korbannya.

Sekonyong-konyong kita langsung dibawa pada posisi seorang anak tunggal berusia 12 tahun yang harus beradaptasi dengan banyak hal. Tak hanya soal pindah ke desa, ia juga harus menerima bibinya yang jadi istri kedua ayahnya.

Enggak butuh waktu lama untuk kita bisa merasakan hampa dan dinginnya kehidupan Mahito dengan segala kondisi yang ia alami. Apalagi ketika Natsuko hamil. Bagaimana ia nantinya harus menerima adik barunya di tengah duka kehilangan ibu; sekeras apapun Natsuko mendekatkan diri dengan Mahito.

Suatu hari, Mahito diteror burung cangak abu-abu. Kata burung cangak itu, ibunya masih hidup. “Bahkan, kau tidak melihat jasadnya,” kata burung itu meyakinkan. Dari situ, bersama Mahiko, kita dibawa ke kehidupan magis yang sungguh bikin kita bertanya-tanya, How Do You Live? (Kimitachi wa Dou Ikiru ka) — seperti judul novel karya Genzaburo Yoshiino yang diadaptasi film ini.

Menarik kita ke multi-dimensi yang begitu kompleks

Sumber: Istimewa.

Secara sederhana, film ini adalah tentang bagaimana Mahito berdamai dengan segala keadaannya. Namun, menuju visi itu, kita dibawa ke berbagai dimensi yang begitu kompleks. Mungkin bagi yang belum terbiasa dengan karya Ghibli, dimensi ini yang terasa ‘absurd’.

Mahito yang terus-terusan diganggu akhirnya mendatangi si burung cangak. Perjalanan Mahito menyusuri berbagai dimensi itu pun dimulai. Dari situ ia bertemu berbagai tokoh lain yang menambah keseruan perjalanannya.

Ada banyak hal yang bikin kita lebih memaknai perjalanan Mahito yang melintasi berbagai dimensi kehidupan. Bahwa mungkin kumpulan burung ‘sepele’, bisa memasak manusia di dimensi lainnya. Atau mungkin musuh kita, di lain kondisi, bisa jadi teman berpetualang yang pada akhirnya menyelamatkan hidup kita.

Natsuko dan para nenek. Sumber: Istimewa.

Tenang saja, kamu tidak akan merasa film animasi ini terlalu berat karena ada beberapa sisipan humor ringan yang bikin kamu santai sejenak. Keberadaan nenek-nenek para pekerja di tempat ayahnya Mahito juga membawa tawa. Tentu, nenek-nenek menggemaskan ini tidak dibuat hanya sebagai penghibur. Hayao Miyazaki tak lupa memberikan makna keberadaan mereka hingga pada akhirnya Mahito pun menyadari bahwa nenek-nenek ini lebih dari sekadar pekerja di keluarganya.

Pengalaman sinema luar biasa bahkan untuk kamu yang bukan fans Ghibli

The Boy and the Heron membawa pengalaman luar biasa tak hanya lewat cerita dan konflik batin yang dibawa. Lebih dari itu, kamu akan jatuh cinta dengan bagaimana cara film animasi ini menggambarkan suasana pedesaan pada tahun 1940-an.

Tak heran, Toshiko Suzuki (produser) pernah mengungkapkan dalam sebuah interview bahwa timnya menghabiskan lebih banyak uang untuk penggarapan The Boy and the Heron; bahkan dibanding dengan bujet produksi Studio Ghibli lainnya, The Tale of the Princess Kaguya –dengan anggaran sebesar 5,15 Miliar Yen.

Tiap dimensi yang disambangi Mahito punya keindahannya sendiri. Bikin setiap emosi yang diarungi jadi lebih dekat dengan penontonnya. Setiap transisi antardimensi pun sukses membuat kita terpana. Ditambah scoring tiap daerah dan dimensi yang bikin kita seakan masuk ke dunia yang tengah Mahito arungi.

***

Emosional, hangat, dan menyenangkan. Menonton The Boy and the Heron ibarat makan sesuatu yang diinginkan, dalam porsi pas, di waktu yang tepat. Akhirnya kita enggak sekadar kenyang, melainkan mendapatkan kepuasan sekaligus perasaan menyenangkan. Tak heran kalau The Boy and the Heron berhasil mendapatkan nominasi untuk Animated Feature Film di Golden Globe Award.

Apalagi ketika pada akhirnya Mahito dibawa ke persimpangan. Kita jadi ikut merefleksi diri lewat pertanyaan yang muncul di benak; apakah ia akan hidup dalam duka atau mengambil langkah untuk beradaptasi dan menjalani kebahagiaan yang baru. Ada banyak yang perlu berkorban dan dikorbankan. Sebaliknya, ada banyak juga hal baru yang menunggu; yang mungkin membawa kebahagiaan baru. Jalan ada banyak, tapi kitalah yang akhirnya memilihnya.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.