Akan Dibuat Chapter 5, Ini Hal-Hal yang Bikin Karakter John Wick Menyebalkan!

Petualangan Jardani Jovonovich, Jonathan Wick, atau yang lebih dikenal dengan sebutan John Wick nampaknya belum akan berakhir pada Chapter 4 (2023). Pasalnya, belum lama ini rumah produksi Lionsgate memberikan kabar bahwa John Wick Chapter 5 sudah memasuki tahap perkembangan. Sesuai dengan tebakan para penonton, John Wick memang enggak betul-betul meninggal dunia di Chapter 4.

John Wick, sebagai tokoh utama sekaligus antihero dalam semesta John Wick, seharusnya beristirahat dari dunia hitam usai mengalahkan lawannya dalam duel High Table. Namun, semenjak pembunuhan anjingnya pada John Wick (2014) oleh Iosef Tarasof, John Wick nampaknya enggak benar-benar bisa lepas dari masa lalunya. Ia adalah mesin yang “terbiasa” menyerang dan membunuh, sehingga kehidupan pensiun mungkin enggak terasa pas baginya.

Kondisi ini pun lama-lama membuat karakter John Wick terasa menyebalkan. Ya, terlepas dari segala kekuatan dan kelebihannya, hal-hal ini memang jadi bikin penonton kesal sama John Wick! Apakah kamu merasakannya?

Alasan mengapa John Wick menyebalkan

Enggak jelas apa tujuannya

Via Istimewa

John Wick merasa jiwanya hampa setelah sang istri, Helen, meninggal dunia. Sontak, John Wick pun menjalani kehidupan bak zombie, tanpa tujuan yang jelas kecuali berkeliaran dengan mobilnya atau mengurus anjing peliharaan peninggalan sang istri. Terlebih lagi, John Wick juga sudah pensiun dari dunia hitam.

Namun, John Wick bukannya mau meninggal dunia dan menyusul sang istri. Pada John Wick: Chapter 4, ia berkata bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menghidupkan kenangan-kenangan akan sang istri: tujuan yang absurd banget. 

Maka dari itu, ada betulnya perkataan Marquis Vincent de Gramont saat membandingkan John Wick dan Caine, salah satu pembunuh bayaran buta yang diutusnya secara paksa untuk membunuh John Wick: “There are three types of men in this world. Those who have something to live for, those who have something to die for, and those who have something to kill for. John Wick has none of these things. But the blind man, well, he has all three.”

Dibandingkan John Wick, rekan-rekannya yang lain memiliki tujuan jelas buat hidup. Caine, misalnya, ingin melindungi sang anak. Winston, ingin berkiprah di hotelnya dan ingin memiliki kedudukan serta kontrol dari sana. Sementara itu, John Wick sebetulnya enggak betul-betul paham mengapa dirinya ingin hidup, kecuali bahwa itu memang instingnya saja sebagai makhluk hidup.

Susah Diajak Ngobrol

Via Istimewa

Setiap kali John Wick mengobrol dengan siapa pun, bahkan dengan Winston atau pun dengan Charon sekali pun, John Wick hanya akan menanggapi dengan kalimat-kalimat singkat, ambigu, atau dengan kalimat tertutup. Pembicaraan dengan John Wick enggak pernah menjadi pembicaraan yang asyik dan seru karena sifat dingin John Wick.

Hal tersebut terjadi mungkin karena berbagai alasan. Pertama, karena kehidupan John Wick memang sangat pahit bahkan sejak kecil, sehingga sulit baginya untuk bisa berperilaku ramah dan terbuka terhadap orang lain. Kedua, karena John Wick memang lebih tahu tentang banyak hal dibandingkan orang-orang di sekitarnya sehingga obrolan panjang enggak diperlukan. Terakhir, John Wick memang terbiasa untuk melakukan sesuatu secara langsung alih-alih mendiskusikannya. 

Self-Centered

Via Istimewa

Baik dalam pembicaraan mau pun pengambilan keputusan, John Wick memang cenderung self-centered. Contohnya adalah pada saat ia membunuh Santino d’Antonio (John Wick: Chapter 2), saat ia bikin susah semua orang dalam John Wick : Chapter 4 termasuk Winston, dan juga setiap kali ia mengambil keputusan.

Agak sulit bagi John Wick untuk mendengarkan orang lain. Anjuran Winston untuk enggak membunuh Santino d’Antonio enggak digubris, padahal Winston mungkin memiliki ide yang lebih baik jika Wick enggak membunuh d’Antonio. Selain itu, Wick juga sepertinya enggak betul-betul peduli dengan nasib keluarga orang lain, seperti misalnya nasib petarung Continental Osaka yang melindunginya, nasib Akira anak pemilik Continental Osaka, nasib Charon, atau bahkan anak dari Caine.

John Wick juga enggak menghormati High Table sebagai penjaga regulasi di dunia hitam yang fair dan membuat semua aktivitas memiliki aturan main.

Suka Impulsif

Via Istimewa

Pembunuhan Santino d’Antonio di Hotel Continental New York pada John Wick: Chapter 2 adalah sesuatu yang betul-betul mengacaukan banyak hal. Pembunuhan ini tergolong sangat impulsif untuk ukuran seseorang yang katanya memiliki julukan “Baba Yaga.”

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Winston memang sudah melarang Wick untuk membunuh Santino d’Antonio di Hotel Continental New York karena ia adalah tempat netral. Layaknya Ms. Perkins, Wick akan mengalami excommunicado, dilepaskan segala haknya dari dunia hitam dan menjadi kejaran bounty hunters seluruh dunia.

Walaupun pada saat itu Wick enggak aman di luar Continental karena fitnah dari d’Antonio, tetapi membunuh Antonio adalah hal yang sangat bodoh. Jika Wick mau mendengarkan Winston, ceritanya mungkin akan lain.

Impulsifnya John Wick juga terlihat pada saat ia secara brutal menembaki para penjaga The Elder bahkan The Elder itu sendiri. Bukannya memperbaiki banyak hal, John Wick malah bikin semuanya semakin hancur enggak karuan. Jika saja pada Chapter 4, Winston enggak ada, Wick mungkin hanya akan merepotkan semua orang dan enggak punya ide untuk menyelesaikan semuanya dengan cara yang lebih baik.

Merepotkan Banyak Orang Terdekat

Via Istimewa

Sudah banyak orang yang mengorbankan keselamatan, kenyamanan, uang, kedudukan, bahkan nyawa demi John Wick. Misalnya seperti Winston, yang sejak awal terlihat seperti ayah bagi John Wick. Winston harus kehilangan kedudukannya sebagai manajer Hotel Continental, dipermalukan, bahkan terancam mati jika John Wick gagal mengalahkan Marquis Vincent de Gramont serta Caine dalam duel High Table.

Sementara itu, Charon juga dibunuh oleh de Gramont sebagai tumbal atas subjektivitas Winston yang terus-menerus melindungi John Wick. Marcus, pada John Wick pertama, juga mati karena melindunginya. Kemudian, Koji Shimazu, manajer Hotel Continental Osaka, harus meregang nyawa dan mengorbankan banyak anak buahnya karena John Wick meminta bantuan ke sana. Akira, anak dari Koji, harus terluka dan kehilangan sang ayah. The Bowery King, juga harus menerima tujuh sabetan pedang karena membantu John Wick.

Daftar itu belum habis, karena Paman Pyotr, ayah angkatnya, dibunuh lantaran melindunginya, begitu pula, The Director, ibu angkatnya, yang harus menerima hunusan pisau di tangan akibat “helping-hands” yang ia berikan kepada John Wick. Semua hal yang ada di dekatnya kerap tertimpa kesialan. Hal itu bukan enggak mungkin kembali terjadi di Chapter 5 kelak.

Enggak Gampang Mati

Via Istimewa

John Wick adalah sosok pembunuh bayaran yang sangat taktis, penuh analisis, dan juga mampu menghindari serangan dengan baik. Ini adalah kelebihan tetapi juga sesuatu yang menyebalkan.

John Wick pun terasa lebih dari sekadar antihero atau pembunuh super. John Wick terlihat seperti sesuatu yang enggak realistis, dan hal itu semakin terasa nanti di film kelimanya. Padahal, jika ia dipensiunkan pada John Wick: Chapter 4, sebetulnya kisah ini akan menjadi lebih padat dan legenda John Wick enggak terasa mengada-ada. 

                                                                        ***

Entah apa yang akan terjadi kepada John Wick dan orang-orang yang membelanya dalam chapter selanjutnya. Namun, kita tentu menunggu kisah pria Belarusia yang lebih mature dan tentunya berbeda dari sebelumnya.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.