Film Horor Indonesia

10 Elemen Basi Film Horor Indonesia yang Itu-itu Terus!

Semenjak remake Pengabdi Setan masuk ke layar bioskop dan mendapat sambutan yang sangat baik, saat itu dimulailah era horor yang “berkualitas” di Indonesia. Tidak semuanya berkualitas baik, tetapi enggak seperti era 2010-an yang dipenuhi horor komedi dan horor panas, pada era ini para sineas berusaha keras untuk menyajikan horor yang berkualitas, bukan dibuat asal-asalan.

Namun, usaha keras para sineas untuk berbondong-bondong bikin high quality horror movies justru menciptakan beberapa hal yang klise. Alih-alih mencapai tujuan –yakni memberikan rasa ngeri kepada penonton dan menciptakan cerita kuat yang traumatis layaknya Evil Dead Rise, beberapa elemen basi film horor ini bikin penonton benar-benar merasa jenuh dan merusak kualitas film.

Apa saja hal klise yang kerap tampil di film horor Indonesia dan berpotensi merusak cerita? Ini dia.

Elemen-elemen basi film horor Indonesia

Anak kecil sebagai pemancing rasa takut

Ketakutan anak kecil yang lugu, polos, dan enggak memiliki dosa memang merupakan sumber teror yang menarik bagi penonton. Anak kecil ini biasanya akan ditempatkan pada situasi di mana hantu, iblis, atau kekuatan jahat lainnya mengganggu mereka saat sendirian, tanpa pertolongan. 

Formula ini sebetulnya selalu sukses untuk bikin penonton paranoid sendiri. Mereka akan menempatkan diri sebagai anak kecil helpless yang merasa sangat ketakutan saat sesuatu yang mengerikan mengancam.

Banyaknya penggunaan formula ini, bahkan dengan plot dan tindakan tokoh yang di luar nalar (misalnya meninggalkan sang anak di tempat yang jelas-jelas sudah diketahui berbahaya) membuat formula ini jadi klise dan cringe. Alih-alih kasihan, kita rasanya ingin marah pada orang dewasa yang enggak bertanggung jawab tersebut. 

Scoring yang “lebay”

Scoring memegang peranan penting dalam membangun suasana di dalam film, termasuk di dalam film horor. Pada momen-momen menegangkan, seperti saat hantu akan keluar, scoring biasanya akan dibuat lebih keras dan lebih menegangkan dengan nada yang tinggi. Namun, peletakkan scoring yang terlalu berisik sangat mengganggu dan alih-alih bikin jantung hampir copot, justru membuat penonton merasa terganggu.

Lampu yang berkedip-kedip

Film Horor Indonesia
Film Horor Indonesia. Via Istimewa

Kekuatan jahat seperti iblis atau hantu memang kerap mengganggu beberapa hal, salah satunya adalah kelistrikan. Masalahnya, scene sebelum jumpscare di film-film horor, termasuk dari luar negeri, kerap melibatkan lampu yang berkedip-kedip. Formula ini kerap bikin penonton bertanya-tanya: apakah para hantu ini memang punya passion di dunia elektronik atau sineas sudah kehabisan akal untuk memaparkan premis bahwa hantu punya kuasa untuk menyentuh dimensi kita?

Tokoh utama yang enggak logis

Elemen film Horor Indonesia. Via istimewa.

Pekerjaan wajib dalam sebuah film horor adalah menempatkan tokoh-tokoh utama di dalam situasi berbahaya. Beberapa film melakukannya dengan baik. Misalnya seperti Pengabdi Setan 2: Communion yang memberikan alasan realistis tentang mengapa sang tokoh pindah ke rumah susun dan pada akhirnya bertemu entitas-entitas jahat.

Masalahnya, banyak film horor Indonesia yang secara konyol menempatkan tokoh-tokoh utamanya pada situasi berbahaya tanpa dasar yang sesuai dengan premis. Alurnya terasa dipaksakan untuk membuat tokoh-tokoh utama berada di dalam situasi itu, sehingga kita sebagai penonton pun merasa bahwa pilihan para tokoh ini sangat ceroboh. Pada akhirnya, hal ini membuat kengerian jadi berkurang lantaran kita sebelumnya sudah merasa kesal dan kurang berempati pada tokoh utama.

Gore berlebihan

Film Horor Indonesia. Via Istimewa
Film Horor Indonesia. Via Istimewa

Gore menjadi elemen yang kini sangat sering dipakai sineas dalam meramu horor selain jumpscare. Gore menyentuh rasa jijik dan nyeri pada manusia sehingga menambah teror pada sebuah film horor. Sebetulnya, gore yang dipakai dengan bijak dan sesuai porsi, seperti Rumah Dara misalnya, bisa betul-betul bikin penonton trauma.

Namun, latahnya beberapa oknum sineas dalam memasukkan unsur gore justru malah membuat hal ini menjadi terasa membosankan dan berkurang sensasinya. Beberapa film bahkan memberikan elemen gore yang enggak smooth dengan properti yang terlihat palsu. Hal-hal yang dibuat dengan tujuan menambah teror justru malah membuat cerita lemah dan pelaku aksi terlihat konyol.

Background yang lemah

Unsur menarik utama dalam film horor adalah bagaimana teror dan ketakutan dirasakan oleh para tokoh utama. Inilah yang membuat beberapa sineas Indonesia enggak terlalu memusingkan masalah background cerita, baik dari segi pengembangan konflik mau pun latar belakang sosial dan ekonomi tokoh utama. Di mata beberapa pembuat film, yang terpenting adalah bagaimana tokoh-tokoh ini ditempatkan di situasi berbahaya atau harus berhadapan dengan masalah. 

Background cerita yang lemah membuat tokoh utama memiliki pilihan tindakan yang enggak realistis sama sekali dan menambag plot holes. Pada akhirnya, biasanya film horor harus menambal sulam karya agar plot hole enggak terasa menganggu, yang berimbas pada janggalnya jalan cerita.

Tokoh protagonis yang teriak-teriak

Film Horor Indonesia
Film Horor Indonesia. Via Istimewa

Teriakan adalah respons alami manusia dalam menghadapi sesuatu yang mengancam mereka, termasuk hantu atau psikopat dalam film horor. Teriakan akan menjadi bumbu yang senantiasa ada di dalam film horor, terlebih saat tokoh utama sudah menemui bahaya di tempat yang enggak mendukung mereka untuk mendapatkan pertolongan.

Masalah muncul ketika teriakan tokoh terjadi berulang kali, bahkan saat jumpscare enggak beneran ada. Teriakan-teriakan yang memekakkan telinga kerap mengganggu konsentrasi penonton, membuat pembangunan karakter menjadi dangkal, dan menjadikan film berkurang kematangannya. 

Referensi yang kebarat-baratan

Tentu saja ada begitu banyak legenda urban atau mitos yang berasal dari Barat yang kemudian menginspirasi banyak sineas Indonesia. Saat mitos dan legenda itu diangkat ke dalam film Hollywood, rasanya wajar mengingat adanya kedekatan budaya di antara karya itu dan mitos serta legenda yang beredar.

Namun, banyak sineas Indonesia yang akhirnya latah memasukkan hal-hal itu ke dalam film horor Indonesia. Efeknya enggak terasa semengerikan apa yang penonton rasakan saat menonton film Hollywood, bahkan membuat film terasa copy paste film-film horor Hollywood yang sebelumnya sudah beredar.

Tempat yang enggak logis

Film Horor Indonesia
Film Horor Indonesia. Via Istimewa

Rumah sepi, terasing dari sekitar adalah setting yang tepat dalam meramu teror di film Hollywood. Jika dikemas dalam background cerita yang kuat, hal ini akan membuat penonton ikut terbawa masuk ke dalam teror yang ditawarkan. 

Namun, banyak film yang membuat background janggal dan seolah meletakkan tempat-tempat ini di tempat asing hanya supaya sang tokoh terlibat masalah tanpa bantuan. Misalnya, vila yang terisolasi di dalam hutan, tanpa angkutan sama sekali, padahal di Indonesia, hampir enggak ada budaya berlibur di cabin in the wood yang terisolasi layaknya orang-orang Amerika Serikat. Peletakkan vila orang kaya yang terisolasi ini terasa janggal karena enggak akan ada orang kaya yang mau membelinya, kecuali jika seluruh hutan itu adalah miliknya. Terlebih, bentuk rumahnya juga enggak seperti cabin in the wood, bahkan cenderung seperti rumah konvensional.

Ada pula tempat-tempat lain yang seharusnya mudah diakses, seperti perumahan atau panti asuhan misalnya, yang sengaja dibuat tanpa akses hanya supaya tokoh utama merasa helpless.

Lupa dengan latar waktu

Selain latar tempat, latar waktu juga wajib untuk dipahami dalam membuat film horor yang padat dan utuh. Latar waktu juga harus berkesinambungan dengan elemen-elemen lain seperti kostum karakter, barang-barang di rumah, dan juga budaya sekitar.

Latar waktu yang diabaikan hanya supaya teror mudah dimasukkan membuat cerita menjadi janggal. Misalnya, keberadaan teknologi seperti kulkas atau freezer pada masa perjuangan Indonesia melawan penjajah. Ini akan membuat film horor terasa hanya seperti wahana mainan untuk meneror penikmatnya, bukan karya yang bernas.

Kita semestinya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya pada niat para sineas Indonesia untuk menciptakan horor-horor yang betul-betul diniatkan untuk menjadi film yang bagus. Namun, mengingat horor adalah sebuah karya layaknya genre lainnya, tentu elemen-elemen di atas perlu diperhatikan.

***

Harusnya ada formula baru yang segar di film horor. Kalau pakai elemen yang itu-itu lagi, pasti ketebak oleh penonton dan sensasi takutnya malah berkurang, yang ada hanya kaget. Padahal ini film horor, tapi kenapa yang diandalkan jumpscare lagi, momen gelap nan hening lagi, dan tidak kalah sering, yaitu pergantian angle kamera yang pelan banget.

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.