Jeremias Nyangoen

Sebelum Women from Rote Island, Inilah Kiprah Jeremias Nyangoen dalam Film Indonesia

Jeremias Nyangoen, nama ini tiba-tiba jadi perbincangan publik setelah membawa sebuah film berjudul Women from Rote Island menjadi film terbaik di FFI dan merajai banyak penghargaan di ajang festival film paling bergengsi itu. Tapi sebetulnya nama Jeremias Nyangoen bukan nama baru di belantika film Indonesia.

Ada sejumlah film Indonesia di mana ada campur tangan Jeremias Nyangoen di baliknya dan Women Rote Island bukanlah film pertama di mana ia berkontribusi. Ia pernah bermain sebagai aktor, membuat naskah skenario, memproduseri serta menyutradarai berbagai film. Nah di bawah ini adalah sejumlah film Indonesia di mana ada nama Jeremias Nyangoen di baliknya.

Jeremias Nyangoen dalam Film Indonesia

1. Berperan dalam film Kuldesak

Akting Jeremias Nyangoen dalam film Kuldesak 1998. Istimewa.

Usia Jeremias sudah 30 tahun ketika pertama kali ia turut serta dalam sebuah film berjudul Kuldesak. Film ini adalah film yang tayang pada tahun 1998 itu. Kuldesak adalah film yang digawangi oleh sutradara, Rizal Mantovani, Mira Lesmana, Nan Achnas dan Riri Riza. Di tengah film Indonesia yang sedang lumpuh, Kuldesak hadir sebagai film yang patut diapresiasi pada zaman itu.

Nah Jeremia Nyangoen hadir sebagai salah satu karakter dalam film tersebut. Meski ia hanya jadi cameo sebagai seorang penjual penghisap debu. Setelah Kuldesak, Jeremias juga bermain dalam sebuah film berjudul Beth, Ketika juga film biopik tentang Sumanto berjudul Kanibal-Sumanto. Di sana ia berperan sebagai tokoh utama sang pemakan manusia.

2. Penulis Skenario dalam Film Denias Senandung di Atas Awan

Denias, jadi film yang membuka mata banyak orang tentang sudut pandang dunia Indonesia timur. Film ini berkisah tentang seorang anak bernama Denias, ia menjadi sosok sentral sebagai anak dari pedalaman Papua yang ingin sekali mendapatkan pendidikan layak seperti halnya anak-anak dari pulau lain.

Denias Senandung di Atas Awan memenangkan banyak penghargaan. Sosok penting dalam terwujudnya film ini adalah Jeremias Nyangoen. Sebab film ini berangkat dari buat pikirnya yang kemudian ia tuliskan dalam sebuah skenario panjang. Uniknya Film Denias rilis dua tahun setelah film Ketika, film terakhir di mana Jeremias muncul sebagai seorang aktor.

3. Produser dan penulis skenario Film Sang Dewi

Berselang setahun kemudian, Jeremias kembali membuat sekanrio film, jika sebelumnya film yang ia tulis ceritanya tentang Indonesia timur, kali ini cerita film yang ia buat berkisah tentang seorang pria bisu yang terlibat kisah asmara dengan seorang perempuan. Dengan segala konflik yang ditampilkan membuat penonton merasa dekat dengan karakter utamanya.

Banyak yang merasa jika film ini seperti film Rocky versi Indonesia. Sebab jalan ceritanya yang sedikit banyak mirip dengan film Hollywood itu. Selain menulis skenario tentang film ini, Sang Dewi juga jadi kali pertama Jeremias Nyangoen memproduseri sebuah film. Sayangnya gaung film ini enggak terlalu terdengar.

4. Penulis skenario dalam Film Serdadu Kumbang

Jeremias Nyangoen kembali duduk menekur membuat sebuah cerita panjang tentang sebuah film Indonesia yang set nya ada di Sumbawa. Film ini berkisah tentang anak-anak di Sumbawa yang punya cita-cita tinggi meski hidup di pedalaman. Film ini diantarkan ceritanya oleh Amek, Acan dan Umbe yang ingin sekali lulus ujian nasional.

Berbagai konflik terjadi, membawa penonton melihat realita apa yang sebetulnya orang-orang juga anak-anak Sumba rasakan. Jeremias Nyangoen tahu betul apa yang ia tulis di sana sehingga film ini mencoba mengantarkan pesannya pada penonton dengan detail. Lewat landscape Sumba yang cantik film ini kembali ditukangi oleh Ari Sihasale.

5. Penulis skenario Film Rumah Merah Putih

Ari Sihasale dan Jeremias seolah jadi dwi tunggal yang sulit dipisahkan. Setelah dua film mereka bersama. Keduanya kembali membuat film yang enggak kalah menarik dan masih mengangkat tentang Indonesia Timur. Film tersebut adalah Rumah Merah putih. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale dan ditulis ceritanya oleh Jeremias Nyangoen.

Jika sebelumnya kedua orang ini mengambil set di Papua dan Sumba kali ini set lokasi yang diambil untuk film ini berada di Belu Nusa Tenggara Timur. Lewat premis yang sederhana, film ini berkembang menyotorti perasaan masyakat perbatasan tentang nasionalisme yang mereka rasakan.

Sebetulnya film ini berkisah tentang Farel dan Oscar, dua anak yang diminta untuk mengambil cat untuk merayakan 17 Agustus namun cat tersebut justru hilang. Dari sanalah konflik bermula dan segela penyelesaian cerita yang menarik bermuara.

***

Jadi itu tadi sederet film yang pernah ditukangi oleh Jeremias Nyangoen. Mulai dari membintanginya, menulis ceritanya sampai menyutradrainya. Kini Jeremias hadir sebagai sutradara terbaik Indonesia dalam debut penyutradaraanya. Film Women from Rote Island tayang di bioskop setelah merengkuh banyak penghargaan FFI.

Lantas, apakah kamu akan nonton karya terbaru Jeremias Nyangoen ini di bioskop?

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.