Jalan Panjang Live-Action Barbie, Kenapa Baru Dibuat Sekarang?

Live-action Barbie dianggap sebuah kesuksesan, baik dari segi pemasaran, virality, mau pun atensi penonton. Tentu ini enggak bisa dilepaskan dari betapa legendarisnya mainan Barbie yang diproduksi oleh Mattel sejak 1959. Hampir semua anak perempuan memainkan, atau setidaknya mengenal Barbie dengan ragam variannya, yang dulu gencar beriklan di TV.

Sudah ada banyak film animasi yang bercerita tentang Barbie. Namun, mengapa versi live-actionnya baru dirilis sekarang?

Ada beberapa alasan mengapa film live-action Barbie baru dirilis pada 2023, 64 tahun setelah kemunculannya. Berikut beberapa di antaranya.

Mengapa live-action Barbie baru dibikin sekarang?

Mattel sangat protektif terhadap Barbie

Via Istimewa

Mattel, sebagai pembuat dan pemegang hak cipta Barbie sangat protektif terhadap citra Barbie itu sendiri. Mattel pernah mengajukan gugatan kepada Aqua, band yang merilis lagu Barbie Girl pada tahun 1997 karena dianggap menggambarkan Barbie dengan cara yang dangkal. Barbie dalam lagu itu dianggap hanya sebagai objek plastik semata dan hal itu menurut Mattel berpengaruh pada penjualan Barbie.

Begitu sulit bahkan bagi waralaba sekelas Toy Story dari Pixar untuk bisa melobi Mattel agar Barbie dibolehkan tampil ke Toy Story. Karena, penggambaran pertama Toy Story terhadap Barbie dianggap akan menghancurkan pandangan anak-anak terhadap Barbie.

Pada Toy Story 2, akhirnya, Mattel mengizinkan produser untuk menampilkan Barbie untuk tampil. Bukan hanya satu Barbie, ada beberapa Barbie yang tampil di sana dan di Toy Story 3. Diizinkannya Barbie untuk tampil di waralaba ini diduga karena Mattel melihat komitmen Pixar untuk membuat ide kisah yang unik tentang Barbie dan Ken yang penuh nuansa girl power, serta melihat betapa larisnya Toy Story.

Adanya pergantian distributor

Via Istimewa

Pada tahun 2009, Universal Studio berencana membuat live-action tentang Barbie. Namun, hal itu enggak pernah benar-benar terealisasi. Kemudian, Sony mengambil alih hak tayang dan pada 2015 mengumumkan bahwa film live-action Barbie akan dirilis pada 2 Juni 2017. 

Namun, ada masalah dengan pergantian penulis skenario dan juga aktor. Permasalahan ini enggak menemukan titik terang, padahal hak tayang ini akan kedaluarsa pada 2020 dan pada tahun 2018, mereka sudah mencapai persetujuan dengan Anne Hathaway untuk menjadi pemeran Barbie.

Masalah yang enggak kunjung rampung ini bikin hak tayang mereka pun telanjur kedaluarsa dan Warner Bros. mendapatkan hak tayang tersebut. Kini, Warner Bros. benar-benar merealisasikan apa yang enggak dilakukan oleh dua rumah produksi besar itu.

Penulis skenario yang enggak sanggup melakukannya

Via Istimewa

Kegagalan Sony dalam merealisasikan Barbie live-action enggak bisa dilepaskan dari menyerahnya pemenang Academy Award Diablo Cody (Brook Maurio) dalam merumuskan naskah Barbie. Sebagai penulis skenario kawakan yang sudah memenangkan berbagai macam penghargaan, termasuk Academy Awards untuk Juno (2007), kemampuannya tentu udah enggak diragukan lagi.

Namun, mengapa Diablo Cody merasa enggak sanggup untuk menulis naskah Barbie? Dalam wawancara dengan berbagai media, Diablo Cody mengaku bahwa ia betul-betul merasa bingung mengenai bagaimana ia harus mengemas sebuah boneka –yang terkenal punya stereotip kecantikan banal dan tradisional– sebagai feminist girl boss yang memiliki “kekuatan”. 

“Sekarang, di berbagai media sosial termasuk TikTok, kamu mungkin bisa melihat bahwa bimbo (stereotip perempuan yang hanya mengandalkan penampilan) yang feminin bisa diterima masyarakat sebagai sosok yang juga kuat. Namun, pada saat aku ditawarkan pekerjaan ini, sepertinya hal itu enggak mungkin.”

Ia menambahkan, “Lagipula, aku merasa enggak betul-betul merasa bebas membuat Barbie yang sangat ikonis menjadi feminist girl boss. Menurutku, Barbie enggak seperti itu.”

Alasan Cody mungkin bisa jadi realistis, karena di tengah banyaknya pujian kritikus terhadap isu-isu yang ditawarkan Barbie (2023), ada berbagai media yang merasa bahwa isu feminismenya membingungkan atau terlalu anti-men. 

Perdebatan antara aktor dan tim produksi

Via Istimewa

Sebelum kita melihat Margot Robbie berakting sebagai Barbie, aktris Amy Schumer mendapatkan peran itu terlebih dahulu dari Sony pada tahun 2016. Namun, setelah persetujuan, Amy keluar dari proyek dan mengatakan bahwa hal itu terjadi karena ia terlalu sibuk dengan proyek-proyek lain yang sudah telanjur berjalan.

Belum lama ini, Schumer mengatakan bahwa alasannya bukanlah itu, melainkan adanya crash antara dirinya dengan tim produksi. Rencana Barbie live-action versi Sony akan bercerita tentang Barbie sebagai penemu ambisius yang terusir dari Barbieland karena enggak sesempurna yang diinginkan Barbieland.

Ini ide menarik, tetapi Schumer merasa bahwa hal tersebut aneh. Barbie, akan digambarkan sebagai penemu sepatu yang terbuat dari gula-gula, dan menurut Schumer, hal ini enggak betul-betul menggambarkan feminisme yang keren.

Walau proyek ini seharusnya menjadi miliknya, tetapi Schumer tetap antusias menyambut Barbie (2023) yang diperankan oleh Margot Robbie. Menurutnya, film ini akan sangat keren dan merangkul ide feminisme ala Barbie yang lebih cocok ketimbang ide dari Sony.

Terbeban untuk ngasih komitmen kuat terhadap sejarah Barbie 

Via Istimewa

Bukan tanpa alasan Mattel memercayakan film ini kepada Warner Bros. dan Greta Genwig, penulis naskah Barbie yang sebelumnya sudah pernah menulis naskah tentang pencarian jati diri lain seperti Lady Bird misalnya.

Menurut Mattel, semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film Barbie (2023) mampu untuk merangkul ide tentang Barbie sebagai mainan berikut sejarahnya. Ya, bagi Mattel, Barbie bukan sekadar mainan. Ada semesta khusus tentang Barbie dan sejarah panjang yang mencakup mimpi dan bagaimana anak-anak menganggap serta memperlakukan Barbie mereka.

Pembuatan film Barbie yang enggak hanya menceritakan satu karakter Barbie, tetapi merangkul berbagai jenis Barbie yang pernah dirilis, membuat Mattel merasa bahwa film ini paham betul sejarah dan intensi penciptaan Barbie. Selain itu, pencarian jati diri Barbie utama (yang diperankan oleh Margot Robbie) juga dianggap sesuai dengan bagaimana Mattel ingin mendeskripsikan Barbie pada masa kini.

Melalui rilisnya film ini, Mattel enggak hanya ingin menunjukkan satu atau dua cerita Barbie, tetapi menayangkan ide tentang Barbie dan perusahaan itu sendiri.

***

Memang bukan hal yang mudah untuk merangkum mainan legendaris yang telah dinikmati anak-anak dari berbagai generasi menjadi satu film yang menggambarkan itu semua.

Maka dari itu, enggak heran bahwa pemilihan aktor, pembuatan gagasan, hingga promosi dari film Barbie ini sangat all-out. Nah, apakah kamu sudah melihat film Barbie? Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.