5 Film Remake Indonesia yang Lebih Buruk daripada Aslinya

Remake film tentu diharapkan menjadi tontonan yang enggak cuma mengundang nostalgia, tetapi memberikan pengalaman nonton yang lebih baru. Di Indonesia, sudah ada banyak film lawas legendaris yang diadaptasi ulang dan diberi bumbu-bumbu modernitas agar lebih sesuai dengan pangsa pasar zaman sekarang.

Namun, ada beberapa film remake Indonesia yang alih-alih menjadi karya penuh nostalgia yang fresh, malah justru lebih buruk daripada aslinya. Film-film ini dianggap gagal membawa hal-hal ikonik dari karya aslinya dan mengundang banyak kritik. Film remake yang lebih buruk ini kerap dibandingkan dengan film asli dan membuat mereka membawa beban brat.

Apa saja film remake Indonesia yang dianggap gagal dibandingkan versi aslinya? Ini dia.

Film Remake Indonesia yang Lebih Buruk daripada Aslinya

Benyamin Biang Kerok (2017)

Film remake Indonesia
Film remake Indonesia. Via istimewa.

Memang bukan hal yang mudah untuk mengadaptasi karya yang dibintangi oleh seorang entertainer legendaris. Pada tahun 2017, Hanung Bramantyo mendapuk Reza Rahadian untuk bermain sebagai Benyamin Sueb, komedian dan seniman Betawi, dalam film bertajuk Benyamin Biang Kerok.

Film ini adalah remake dari film Benyamin Biang Kerok (1972) yang dibintangi oleh Benyamin dan Ida Royani. Di sana, Benyamin menjadi supir nakal yang suka memanfaatkan mobil majikannya untuk menggaet gadis-gadis.

Film versi 2017 dianggap enggak mampu merepresentasikan banyolan ala Benyamin, memiliki alur yang “maksain”, dan Reza Rahadian yang biasa dipuji karena aktingnya, kali ini dianggap enggak mampu menghidupkan kembali sosok Benyamin. Ceritanya pun kurang padat dan banyak hal enggak penting yang seharusnya enggak perlu dimasukkan ke dalam cerita.

Jomblo (2017)

Melihat kesuksesan Jomblo (2006) yang diangkat dari novel Adhitya Mulya, Falcon Pictures pun memutuskan untuk melakukan remake lewat Jomblo (2017). Namun, apakah berhasil?

Sepertinya enggak. Jomblo (2017) dikritik karena banyaknya adegan dan penokohan yang “maksain”. Jomblo (2006), walau ceritanya sederhana, yakni tentang empat mahasiswa UNB (pelesetan dari ITB) dengan segala konflik percintaan, tetapi mampu memberikan kesan yang lucu, menyentuh hati, dan memorable banget. Orang yang pada saat itu berkuliah, terutama di Bandung, mungkin akan merasa “gue banget” pada saat menonton Jomblo (2006).

Kesan sederhana dan apa adanya ini yang sulit ditemukan pada Jomblo (2017). Ada beberapa momen yang sengaja tetap dipakai untuk bisa mengenang Jomblo (2006), tetapi malah menjadi enggak logis karena enggak sesuai dengan zaman. Jadi, alih-alih bisa menyamai atau lebih bagus daripada versi orisinilnya, Jomblo (2017) terasa seperti film komedi yang mudah terlupakan.

Badai Pasti Berlalu (2007)

Film remake Indonesia
Film remake Indonesia. Via istimewa

Badai Pasti Berlalu (1997) alias versi orisinil adalah big shoes to fill, untuk itu, ide membuat remake-nya pada tahun 2007 adalah pertaruhan besar. Dan benar saja, versi 2007 yang dibintangi oleh Vino G. Bastian dan Raihaanun dianggap “gagal” baik dari segi plot mau pun nuansa.

Badai Pasti Berlalu (1977) berkisah tentang Siska, seorang perempuan yang baru saja patah hati karena ditinggal menikah oleh kekasihnya. Ia pun didekati oleh Leo, teman kakaknya yang terkenal Don Juan. Kisah mereka pun bak badai yang kemudian mendera Siska yang bahkan belum sembuh atas rasa sakitnya.

Badai Pasti Berlalu (2007) mengadaptasi kisah yang sama dengan versi 1977. Hanya saja, jika dibandingkan dengan versi sebelumnya, versi ini kurang mengena. Versi 2007 ini seolah hanya menjadi film romansa biasa saja, mungkin karena film asli terasa lebih klasik karena terikat dengan berbagai kebiasaan dan budaya tahun 70-an di Indonesia.

Galih dan Ratna (2017)

Secara keseluruhan remake film Indonesia ini membangkitkan nostalgia penonton lama yang kangen, tapi KINCIR harus bilang jangan pasang ekspektasi tinggi-tinggi ketika menonton
Film Remake Indonesia

Film ini diadaptasi dari Gita Cinta dari SMA (1979) yang berkisah tentang cinta anak SMA Galih dan Ratna. Keduanya sama-sama anak populer dan pintar tetapi ayah Ratna menentang hubungan itu lantaran perbedaan etnis.

Dikemas dengan sederhana dan konflik yang remaja banget, film orisinilnya terasa menyenangkan ditonton dan enggak berlebihan. Apalagi, ending-nya pun alamiah dan mungkin banyak dialami remaja.

Galih dan Ratna (2017) mencoba menghidupkan hal itu lagi, tetapi sayang enggak bisa sebagus versi aslinya. Versi remake dianggap kurang natural dibandingkan versi aslinya dan agak drama. Alurnya pun lambat sehingga terasa membosankan dan enggak betul-betul disesuaikan dengan budaya gen-z.

Ini Kisah Tiga Dara (2016)

Film remake Indonesia
Film remake Indonesia

Film ikonik Tiga Dara (1956) yang dibuat oleh Usmar Ismail sangatlah menarik dan bersejarah hingga sulit menandinginya. Memang ceritanya sederhana banget, tentang kisah tiga kakak beradik perempuan di mana kakak pertama dan kakak kedua terlibat “cinta segitiga”, begitu pula anak ketiga yang sempat flirting dengan pacar sang kakak kedua.

Namun, yang membuat Tiga Dara menjadi memorable selain nilai sejarahnya adalah kisah yang padat dengan sajian musikal cantik, begitu bercampur sempurna dengan cerita. Lagu-lagu, konflik, dan penokohannya enggak maksain sama sekali. Selain itu, dialog-dialognya juga menggelitik dan menggambarkan budaya populer pada masa itu.

Ini Kisah Tiga Dara yang dibuat oleh Nia Dinata hadir pada dunia modern, turut dituangkan pula kisah perempuan 30-an yang dipaksa menikah oleh sang nenek karena usia. Namun, eksekusinya jelas enggak semulus dan semenyenangkan versi aslinya. Rasanya, lirik dan lagu pada film ini enggak ngeblend dan kurang ear-catchy. Penokohannya lemah, latarnya pun seolah tempelan belaka.

Tiga Dara (1956) dibuat tanpa adanya “agenda-agenda” tertentu, memang ditujukan untuk menyenangkan penonton, dan hal itulah yang bikin ia menjadi kuat dan bermakna sebagai hiburan.

Berbagai remake film di atas sepertinya membuktikan bahwa ada beberapa karya yang memang sebaiknya enggak diutak-atik karena akan mengurangi nilai dan nuansa sejarah di dalamnya. Menurutmu, bagaimana?

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.