Review Game UFC 5

Review Game UFC 5 (2023)

UFC 5
Genre
  • Fighting
Publisher
  • EA Sports
Developer
  • EA Vancouver
Release Date
  • 27 October 2023
Rating
4 / 5

EA Sports selama ini kerap dikenal sebagai publisher game olahraga yang selalu merilis game baru setiap tahun, mulai dari F1, Madden, hingga EA Sports FC. Berbeda dengan beberapa game tersebut, UFC menjadi salah satu waralaba yang tidak rilis secara rutin setiap tahu. Review game kali ini akan membahas tentang UFC 5, game fighting dari promotor MMA paling beken di dunia yakni Ultimate Fighting Championship alias UFC.

Jeda antara UFC 5 dengan UFC 4 yang mencapai tiga tahun membuat sebagian orang memiliki ekpektasi yang tinggi dengan game ini. Apalagi edisi kali ini sudah menggunakan Frostbite sebagai engine seperti game olahraga EA Sports lainnya, dan menawarkan perubahan visual maupun animasi yang optimal buat dilibas oleh konsol generasi terbaru.

https://youtu.be/1R4MdobS1nI?si=0BgpZXoZMqumd8vG

Review game UFC 5 (2023)

Bertarung hingga berdarah-darah

Review Game UFC 5
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Salah satu keunikan dari UFC 5 adalah rating ini mendapat rating M (Mature) dari ESRB, atau merupakan game yang hanya boleh dimainkan oleh game dewasa. Ini merupakan kali pertama game fighting keluaran EA Sports dapat rating dewasa sejak Fight Night Champion yang rilis pada 2011 silam.

Setelah mencoba bermain UFC 5, tidak heran kalau game ini mendapat rating khusus dewasa. Soalnya visualisasi sistem bleeding game ini mungkin bisa bikin enggak nyaman buat orang-orang yang tidak kuat melihat darah. Selain tampilan darah yang lebih “segar”, kini detail luka di wajah setiap fighter juga tampak lebih realistis seperti yang biasa terlihat di dunia nyata.

Kesan “sadis” kini benar-benar melekat dalam game ini tidak hanya terlihat dari tampilan petarung yang wajahnya babak belur setelah dipukuli, tetapi juga dalam animasi ketika berhasil meng-knock out musuh. Perasaan ketika berhasil “meng-KO” musuh jadi lebih satisfying, karena animasi ketika lawan terjatuh jadi jauh lebih halus dan realistis. Sementara itu cinematic replay setelah berhasil meng-knock out musuh juga memberikan kesan tersendiri, yang mirip seperti kita melihat momen Fatality yang ada di waralaba Mortal Kombat.

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Tampilan wajah dari petarung yang sedang terkena submission yang berbasis choke juga kini terlihat satisfying, karena wajahnya kini bisa memerah bak tomat. Memar yang terdapat di bagian tubuh yang terkena pukul maupun tendang kini juga terlihat lebih jelas, karena bagian tubuhnya kini bisa memerah hanya di bagian yang terkena serangan.

Slogan As Real As It Gets yang EA Sports canangkan dalam UFC 5 tidak hanya sekadar omong kosong belaka, dan bentuknya bisa kita saksikan dengan jelas. Tidak perlu bermain terlalu lama, buat melihat improvisasi visual yang semakin realistis seperti yang dijadikan tagline dari game ini.

Wajah babak belur kini jadi mangsa yang empuk di gameplay

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Salah satu hal yang cukup membuat saya amazed dengan game ini adalah segala kesadisan yang sempat disinggung di atas kini tidak hanya sebatas visual semata, tetapi juga memiki dampak dalam pengalaman gameplay yang akan kamu dapat. Soalnya setiap luka yang ada di wajah lawan kini bisa jadi target buat melancarkan serangan.

Misalnya ketika lawan mendapatkan cut di bagian alis, maka setiap pukulan overhand atau tendangan roundhouse yang kamu lancarkan ke area pelipis bisa memperparah luka tersebut. Efeknya bisa membuat lawan kehilangan penglihatan dan memperparah luka, sehingga bisa membuat dokter menghentikan pertarungan yang menjadi salah satu fitur baru yang ada di game ini.

Kini dokter bisa mengecek kondisi petarung di setiap ronde, dan memutuskan apakah si petarung mampu buat melanjutkan pertarungan. Jika luka yang didapat oleh si petarung sudah terlalu parah, maka sang dokter berhak buat memberi tahu wasih dan menyatakan kalau si petarung sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan dan dinyatakan kalah.

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Luka yang diderita musuh kini juga memberikan efek tersendiri. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya luka pendarahan di bagian alis akan mengurangi vision saat bertarung, sementara memar di bagian dada dan perut akan membuat lawan kesulitan bernafas yang akan berdampak pada stamina yang berkurang semakin cepat.

Fitur tersebut kini bisa membuat setiap fight menjadi sangat variatif, soalnya gameplan di setiap pertarungan akan berbeda sesuai dengan bagian tubuh lawan mana yang sudah bonyok. Misalnya ketika lawan terluka di bibir, maka kamu harus nge-spam pukulan uppercut buat memperbesar peluang mencatatkan knockdown.

Beralih ke mekanik gameplay secara keseluruhan, saya merasakan aspek wrestling yang ada di game ini menjadi jauh lebih mudah dan nyaman. Kini saya bahkan cenderung membuat fighter yang fokus sebagai wrestler atau jiu-jitsu, padahal kedua tipe fighter tersebut saya hindari di game sebelumnya.

Soalnya sekarang saya merasa kalau membuat lawan tap-out jadi lebih mudah, karena sistem submission yang lebih seamless. Setiap fighter kini memiliki bar submission, yang akan terus berkurang semakin sering ia terkena gerakan submission. Tentunya semakin cepat atau lambat pergerakan di submission bar tergantung pada atribut Submission Offense dan Submission Defense setiap fighter. Makanya kini saya rajin antusias buat bikin karakter bertipe wrestler atau jiu-jitsu, karena buat membuat tap-out lawan menjadi lebih mudah hanya dengan meningkatkan atribut Submission Offense.

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Mode grappling Hybrid saat bergulat menjadi titik tengah yang tepat buat mencari balance antara realisme tapi tetap mudah buat dimainkan. Kini saya bisa memilih posisi grappling sesuai keinginan dengan tombol yang cukup simpel, tanpa harus merasa terlalu ribet ataupun terasa terlalu gampang.

Meskipun terdengar lebih simpel, tetapi masih ada beberapa mekanik grappling yang masih belum bisa saya kuasai walau sudah bermain game ini berjam-jam. Misalnya adalah ketika ngeblok transisi grappling atau saat mencoba keluar dari kuncian lawan, yang masih belum saya mengerti sepenuhnya karena selama ini masih asal pencet tombol saja yang penting bisa kabur dari kuncian musuh.

Career Mode masih cukup grindy di awal, tapi jadi makin seru di akhir

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Alur cerita dari Career Mode yang UFC 5 tawarkan masih cukup konsisten di setiap serinya. Karakter yang kamu gunakan diceritakan akan memulai karier dari level amatir, sebelum terus merangkak naik hingga menyandang status “G.O.A.T” atau greatest of all time di UFC.

Hal pertama yang saya suka dari Career Mode di UFC 5 adalah periode onboarding ketika masih jadi petarung amatir, karena kamu akan diberikan tutorial tentang cara bermain game ini yang dikemas dengan menarik dan bisa bikin kamu mengerti dengan cepat.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, Career Mode di waralaba UFC sendiri masih konsisten kayak edisi sebelumnya. Misalnya kamu akan diberikan periode waktu beberapa buat preparation sebelum memulai pertarungan, dan setiap pekannya kamu diberikan “energi” yang harus kamu gunakan buat berlatih hingga mempromosikan pertarungan.

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Tambahan yang saya suka di Career Mode kali ini adalah kemampuan buat meng-simulate sesi latihan, kalau latihannya sudah pernah kamu lakukan sebelumnya. Hal ini tentunya membuat kamu harus grinding di awal, dan bisa kamu petik buahnya semakin banyak sesi latihan yang berhasil diselesaikan.

Makanya feel yang saya rasakan saat main Career Mode sendiri sangat grindy di awal, karena terkadang fase persiapan malah lebih lama ketimbang saat pertandingan sesungguhnya. Hal tersebut sempat membuat saya agak malas buat mengerjakan latihan, soalnya benar-benar terasa seperti sebuah chore yang tidak bisa di-skip sama sekali dan juga sangat repetitif. Memang hal tersebut harus dilalui oleh petarung UFC di dunia nyata, tapi tentu tidak ada salahnya jika ada opsi buat di­-skip lantaran ini hanyalah video game semata.

Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.
Review Game UFC 5 via Tangkapan Layar.

Belakangan saya menyadari kalau semakin ke belakang di setiap save-an, intensitas latihan yang harus kamu mainkan secara langsung menjadi semakin berkurang. Adanya fitur simulate latihan membuat kamu tinggal simulate latihan yang sudah pernah diselesaikan, dan bisa langsung beralih ke pertandingan yang sesungguhnya.

Hal tersebut tentunya menjadi balance yang cukup bagus, karena ketika progress dari save-an sudah jauh maka masa persiapan bisa menjadi lebih cepat dengan adanya fitur simulate. Soalnya kamu sudah bersusah-susah menyelesaikan semua latihan di ketika masih berada di sirkuit amatir atau di undercard UFC.

***

UFC 5 adalah game yang sangat direkomendasikan buat penggemar MMA, terlebih untuk yang mengikuti UFC dengan intens. Selain berkesempatan buat bertanding menggunakan petarung-petarung ternama dunia, game ini juga menampilkan visualisasi yang lebih sadis dan mengingatkan kamu akan pertandingan di dunia nyata.

Apalagi sekarang kamu juga tidak asal pukul dan bikin lawan babak belur saja, karena setiap luka yang diderita oleh lawan bisa menjadi sasaran buat dieksploitasi dalam gameplay. Fitur Career Mode juga masih mengusung konsep yang serupa, dan baru akan terasa serunya di bagian belakang, kalau kamu betah dan sanggup melewati sesi latihan di awal yang terbilang cukup repetitif.

Setelah membaca review game UFC 5 di atas, apakah kamu tertarik buat mencobanya? Jangan lupa buat terus mengunjungi KINCIR untuk mendapatkan informasi terbaru seputar games dan esports!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.