Dominasi ONIC Esports di Kompetisi Mobile Legends Tanah Air

Skuat Mobile Legends ONIC Esports sedang menjadi buah bibir dalam beberapa bulan terakhir. Mereka berhasil membuat rekor dengan 10 kemenangan berturut-turut di berbagai turnamen bergengsi di Indonesia, seperti Piala Presiden Esports 2019 dan MPL Season 3. Sebuah catatan yang begitu istimewa untuk tim yang belum genap terbentuk satu tahun.

Capaian ini cukup membuat kita yakin akan ketangguhan ONIC. Apalagi, dalam MPL Season 3, para “anak ajaib” ini menggapai semuanya dengan sangat dominan. Buktinya, Louvre yang dikenal sebagai salah satu tim terkuat di Indonesia pun mereka bantai di partai final dengan skor 3-0.

Hal ini pun memunculkan pertanyaan di benak para pemerhati skena esports Mobile Legends: apa rahasia di balik dominasi total ONIC? KINCIR pun coba mengupas tuntas kekuatan ONIC Esports yang disesuaikan berdasarkan performa, statistik, dan capaian mereka sejak awal terbentuk hingga ajang MPL Season 3. Simak pembahasannya berikut ini!

 

“Tim Lapis Dua” yang Lebih Bertaring

Sejak hadir pertama kali pada 2018, ONIC langsung menjadi tim yang ditakuti di skena esports Mobile Legends. Tim yang diperkuat Eiduart, Drian, Spade, Watt, dan Fenrir ini langsung mendominasi gelaran MPL Season 2. Di babak Regular Season, mereka menduduki peringkat pertama dengan hanya kalah satu kali. Catatan rasio KD (kill/death) mereka jadi yang terbaik dengan raihan 102 poin. 

Sayangnya, semua berbalik jadi nestapa bagi ONIC di babak Grand Final MPL Season 2. Meski mendapat posisi teratas di Upper Bracket, mereka justru tumbang dari EVOS yang menduduki peringkat keempat.

ONIC pun dicap sebagai tim pesakitan. Skuat utama mereka bubar setelah satu per satu pemain meninggalkan tim hingga menyisakan Drian saja. Momen tersebut justru jadi awal mula kedigdayaan ONIC di skena esports Mobile Legends Indonesia saat ini.

 
 
 

View this post on Instagram

A post shared by ONIC.Drian (@driandlarsen) on

Bubarnya skuat utama ternyata membuka jalan bagi para “anak ajaib” yang terkumpul di skuat lapis kedua ONIC, NV. Udil, SaSa, Psychoo, dan Antimage masuk ke skuat utama, melengkapi Drian sebagai senior di tim.

Perlahan tapi pasti, ONIC mulai menunjukkan kemampuan mereka. Turnamen IEG 2019 dan Dunia Games League 2019 mereka menangkan. Posisi mereka sebagai tim Mobile Legends terkuat di Indonesia pun mereka mantapkan setelah meraih trofi bergengsi Piala Presiden Esports 2019.

Dominasi total mereka tunjukkan di turnamen gelaran IESPL tersebut dengan hanya meraih kekalahan di satu game kala melawan Capcorn di perempat final yang pada akhirnya mereka menangkan. Selanjutnya, semua berjalan mudah bagi Udil dan kawan-kawan dengan mengalahkan tim yang disebut sebagai yang terbaik saat itu, PSG.RRQ, di babak semifinal, serta menyapu bersih partai final melawan Louvre.

Seakan tak puas dengan trofi Piala Presiden Esports 2019, ONIC kembali menunjukkan dominasi total mereka di gelaran MPL Indonesia Season 3. Sama seperti musim sebelumnya, mereka meraih peringkat pertama di babak Regular Season. Kali ini, semua diraih tanpa menderita satu kali kekalahan pun dalam 11 pertandingan yang mereka jalankan.

Berbeda dari musim sebelumnya, semua berakhir manis bagi ONIC di babak Grand Final MPL Season 3. Udil dan kawan-kawan berhasil meraih trofi utama tanpa menderita kalah satu kali pun, baik di pertandingan maupun dari segi game. Bahkan, dibanding saat Piala Presiden Esports 2019 yang berjalan dramatis, turnamen ini terbilang berat sebelah.

Hal ini bisa dilihat saat melawan Louvre, baik di babak pertama Upper Bracket maupun pertandingan final. Udil dan kawan-kawan benar-benar membantai Louvre tanpa ampun. Tak ada momen membalas kill atau merubuhkan turret seperti yang tersaji di pertandingan final Piala Presiden Esports 2019.

Dominasi total seperti ini tak pernah terlihat sebelumnya di gelaran MPL. Di Season 1, Aerowolf sebagai jawara harus tertatih-tatih merangkak dari Lower Bracket untuk mengejutkan semuanya. Begitu pun PSG.RRQ yang sempat menelan kekalahan satu game dari EVOS dan Aerowolf sebelum meraih trofi.

Ketangguhan ONIC di MPL Season 3 memantapkan posisi mereka sebagai tim terbaik di Indonesia. Mereka seakan mengambil pelajaran dari turnamen-turnamen sebelumnya untuk tampil lebih sadis lagi mengalahkan lawannya tanpa ampun.

Sebelum melangkah jauh, simak dulu rangkuman perjalanan ONIC Esports lewat gambar di bawah ini!

 

Sinergi Serasi Antara Bakat, Kepercayaan Diri, dan Chemistry

Apa yang telah diraih oleh ONIC selama setahun terakhir tentu bukan karena keberuntungan semata. Semua didapatkan berkat kombinasi apik semua aspek yang dibutuhkan untuk menjadi yang terbaik. Terlebih jika kita membahas dari segi kemampuan individu, bakat alami, kepercayaan diri, dan kerja sama tim yang sangat solid.

 

Kemampuan Individu Tiada Tara

Dalam setiap kesempatan, Udil dan kawan-kawan selalu menekankan: bakat, bakat, dan bakat adalah kunci kesuksesan ONIC. Mengakui kemampuan diri sendiri secara berlebihan ini memang enggak jauh dari kata sombong. Namun, harus diakui keangkuhan para pemain ONIC tak lain karena memang memiliki semuanya untuk jadi yang terbaik.

Udil, sang kapten yang mengisi posisi midlaner dan Mage, bisa dikatakan menjadi yang terbaik di posisinya dalam skena esports Mobile Legends Tanah Air. Dia memiliki insting membunuh dan timing yang tepat—syarat seorang midlaner yang baik. Namun, yang membedakannya dari rekan seposisinya, seperti Kido (Louvre), Trust (Aerowolf), DoyokSyl (SFI), atau bahkan AyamJago (PSG.RRQ), adalah kemampuan menguasai hampir semua Hero.

Sepanjang gelaran MPL Season 3, Udil tak pernah stuck di satu atau dua Hero seperti Kido dengan Gusion-nya atau Trust dengan Lunox-nya. Dia tercatat menggunakan lima Hero berbeda dari tujuh pertandingan. Keistimewaan dirinya adalah mampu menggunakan setiap Hero tersebut dengan sangat baik.

Begitu pun dengan SaSa. Pemain asal Malaysia ini juga andal dalam menggunakan role berbeda. Meski dikenal sebagai carry, SaSa juga ahli sebagai offlaner menggunakan Fighter. Bahkan, tidak jarang dia menggunakan Tank dan bermain dengan baik, seperti saat melawan Louvre di game kedua pertandingan final Piala Presiden Esports 2019.

Keserbabisaan SaSa bukan berarti dia gagal jadi spesialis yang baik. Justru kemampuan sejatinya tampak saat dia menggunakan Hero carry. Untuk saat ini, dia memang belum bisa dikatakan sebagai carry terbaik dari segi kemampuan individu.

Selagi diberi kepercayaan, dia akan membayarnya dengan sangat baik. Ambil contoh “Savage” yang didapatkannya saat ONIC melawan Louvre di game ketiga final Piala Presiden Esports 2019.

Ketiga pemain lain, Antimage, Psychoo, dan Drian, juga sama berbakatnya dengan Udil dan SaSa. Antimage bisa dikatakan adalah offlaner terbaik saat ini. Begitu pula dengan Psychoo dan Drian yang sangat berhak mendapatkan slot timnas SEA Games 2019.

 

Membangun Chemistry untuk Tampil Solid

Bakat dan kepercayaan diri tentu belum cukup untuk memenuhi syarat tim GG, seperti ONIC saat ini. Dengan bakat dan kepercayaan diri tinggi, mereka pun berpotensi menjadi duri dalam daging dalam tim sendiri. Pasalnya, pemain dengan kemampuan seperti mereka cenderung ingin tampil menonjol hingga menimbulkan persaingan di dalam tubuh tim.

Nyatanya, kekhawatiran tersebut ternyata tidak atau lebih tepatnya “belum” terjadi. Setiap kali bertanding, ONIC terlihat kompak seperti sebuah tim yang sudah lama bermain bersama. Padahal, fakta berkata bahwa Udil, SaSa, Antimage, Psychoo, dan Drian baru bermain bersama dengan intensitas tinggi di level profesional tidak lebih dari setahun.

Nah, untuk mengetahui rahasia resep sukses kekompakan ONIC, KINCIR pun berkesempatan menanyakannya langsung kepada sang owner, Rob Clinton Kardinal (RCK), setelah gelaran Piala Presiden Esports 2019.

Secara mengejutkan, RCK justru kurang setuju jika ONIC disebut sebagai tim yang kompak dan solid. Menurutnya, Udil dan kawan-kawan merupakan individu dengan tingkat harga diri yang sangat tinggi. Maka, tak jarang mereka bertengkar dan berbeda pendapat antara satu dengan lainnya.

Mungkin kalian berpikir bahwa ONIC akan menerapkan sistem latihan intensif hingga belasan jam untuk meningkatkan kemampuan dan chemistry. Nyatanya, tidak demikian.

RCK lebih mementingkan prinsip “enjoy the game” ketimbang memaksakan cara yang melelahkan. Selama ini mereka membawa proses latihan dengan tanpa beban. Baginya, metode ini diterapkan sesuai dengan prinsip dan semangatnya sebagai sesama gamers.

“Karena saya seorang gamer, saya paham. Buat apa main game kalau jadi beban?” ujar RCK.

Tambah RCK, manajemen juga menerapkan metode latihan bersama di bootcamp. Menurutnya, metode ini sengaja diterapkan untuk menciptakan chemistry antara manajemen dan pemain. Termasuk bermain dengan RCK sebagai owner.

Selain itu, treatment paling ampuh yang diterapkan oleh ONIC adalah menjaga performa para pemainnya dengan fokus berlatih. Mereka terbilang jarang melakukan streaming, terutama jika dibandingkan dengan pemain dari tim lain. Inilah kenapa para pemain ONIC Esports lebih terkesan sebagai pro player dibanding youtuber.

 

“Sombong Boleh, Kalah Jangan”

Judul di atas cocok menggambarkan kepercayaan diri tingkat dewa yang dimiliki oleh anak-anak ajaib ONIC. Dalam beberapa kesempatan, mereka sering kali tampak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Bahkan, enggak jarang kata-kata yang mereka ucapkan setelah bertanding terkesan merendahkan lawan.

Contohnya adalah kata-kata yang Udil ucapkan tepat setelah menang melawan Louvre di final MPL Season 3. Dia punya pesan bijak kepada Louvre. Menurutnya, jika Louvre ingin menang, Kido dan kawan-kawan harus bertukar tempat dengannya.

Selama ini, sang kapten memang dikenal dengan kesombongan tingkat “ultimate”-nya. Apalagi di beberapa kesempatan, Udil selalu maju untuk ditanya atau diwawancarai awak media. Namun, jangan salah kaprah. Ternyata, tak hanya Udil yang punya kepercayaan diri tingkat “ultimate”. Rekan setimnya pun tak kalah pede-nya.

“Lebih susah lawan publik atau AI dibanding lawan Louvre,” tutur Antimage yang kemudian diiyakan rekan setimnya selepas pertandingan final MPL Season 3.

Lain lagi dengan Psychoo. Dia justru meleburkan bakat dan kepercayaan diri tingkat tingginya lalu membawanya setiap kali bertanding. Pemain yang sering mengandalkan Chou ini mengatakan kepada KINCIR bahwa taunting adalah salah satu kunci penting untuk mengalahkan musuh.

Strategi ini selalu diterapkan Psychoo dalam pertandingan. Ambil contoh saat melawan Louvre di final Piala Presiden Esports 2019. Menggunakan Chou, dia sering kali mengacak-ngacak wilayah musuh. Istimewanya, dia melakukannya dengan baik dan jarang terciduk. Apa yang dia lakukan ini secara bertahap membuat lawan frustrasi dan kesal setengah mati dengannya.

Hal ini pun membuat fokus lawan berantakan. Chou yang di-build-nya menjadi Tank justru selalu menjadi sasaran utama pemain Louvre. Sebuah langkah yang sangat percuma mengingat tanker sudah pasti punya durabilitas yang rendah. Secara tidak langsung, taunting yang dilakukan Psychoo pun membuat Hero core ONIC aman tenteram hingga dapat melakukan free hit.

 
 
 

View this post on Instagram

A post shared by Teguh Saputra (@onic.psychoo) on

Harus diakui, kepercayaan diri para bocah ajaib ini memang bisa dibilang terlalu tinggi dan sudah masuk ke tahap sombong. Namun, tak berhak jika kita menyalahkan mereka dengan sikap sombongnya. Pasalnya, apa yang mereka elu-elukan memang menjadi bagian dari diri mereka masing-masing. Terutama dari bakat, kemampuan yang mereka punya, dan prestasi yang mereka dapatkan saat ini.

Lagipula, kepercayaan diri mereka yang tinggi bisa dikatakan juga menjadi faktor kesuksesan mereka saat ini. Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, mereka pun selalu tampil dengan keyakinan untuk selalu menang. Di sisi lain, kepercayaan diri mereka juga bisa meruntuhkan semangat musuh.

Meski demikian, kita sebagai pemerhati juga tidak bisa langsung menilai apa yang dilakukan ONIC merendahkan tim atau pemain lain. Pasalnya, taktik taunting seperti ini terbilang wajar di ranah esports yang sangat kompetitif.

Kita bisa ambil contoh dengan apa yang dilakukan oleh BREN Esports (dulu Aether Main) di ajang Mobile Legends Southeast Asia Cup (MSC) 2018 dan MPL PH Season 1. Tim juara bertahan MSC ini bisa dibilang mengalami kasus yang sama dengan ONIC saat ini. Keduanya sama-sama berbakat, kompak, dan kepercayaan diri yang masuk ke tahap sombong.

Gelaran MPL PH Season 1 menjadi saksi. Di menit-menit terakhir game ketiga pertandingan final, Aether Main melakukan sebuah tindakan yang mungkin bagi sebagian orang sangat menyebalkan kepada lawannya, Digital Devils Pro Gaming (DDPG).

Menjelang berakhirnya pertandingan, Aether Main berhasil menyapu bersih DDPG. Tanpa ada Hero yang mati, Yuji dan kawan-kawan maju ke depan base DDPG lalu pura-pura recall hingga game benar-benar berakhir. Mereka menang dengan skor 14-1 di game tersebut.

Bocah-bocah ajaib ONIC melakukan hal yang kurang lebih sama dengan BREN di game kedua pertandingan final MPL Season 3. Di detik-detik terakhir, mereka berhasil menyapu bersih lima pemain Louvre lalu berdiri di depan base-nya.

Sebagai owner, RCK enggak setuju jika kecongkakan anggota timnya murni karena meremehkan lawan. Dia menjelaskan  bahwa kepercayaan diri Udil dan kawan-kawan merupakan bagian dari taktik.

Menurutnya, rasa percaya diri adalah bekal utama yang harus dimiliki oleh seluruh pemain ONIC. Selain bermanfaat untuk diri sendiri, sikap pede juga bisa membuat musuh merasa tertekan.

“Saya udah mengajarkan ke anak-anak ONIC untuk percaya diri dari awal. Kalau mereka nge-troll, itu sebenarnya memancing lawan dan sebagian dari strategi kami juga," ungkap RCK.

 

Eksperimental, namun Penuh Perhitungan

Satu hal lagi yang membuat ONIC berada di level berbeda dengan tim-tim lainnya adalah segi taktikal yang lebih maju. Terutama jika membahas taktik sebelum bertanding, yakni drafting.

Pemilihan Hero dari ONIC bisa dibilang cukup “nakal”. Dalam beberapa kesempatan, mereka terlihat menggunakan Hero yang sebenarnya tak sedang berjaya di meta. Ambil contoh saat mereka kalah satu game melawan Capcorn di babak perempat final Piala Presiden Esports 2019.

Di game tersebut, Drian secara mengejutkan memilih Nana. Penggemar Mobile Legends pastinya tahu bahwa Hero yang satu ini kurang efektif dan kerap dianggap sebagai feeder. Penggemar Mobile Legends pun menganggap langkah memilih Nana ini meremehkan Capcorn. Namun, Drian yang menggunakannya saat itu membantahnya.

“Kami enggak asal pick. Soalnya, pick ini sudah berdasarkan latihan yang kami jalankan. Saat itu, sinyal lagi parah dan lag beberapa kali. Makanya, kami kejebolan di game itu,” jelas Drian kepada KINCIR.

Nyatanya, drafting “nakal” ONIC lebih sering menemui keberhasilan. Ambil contoh saat game melawan Aerowolf di minggu terakhir Kualifikasi Tertutup Piala Presiden dan game kedua pertandingan final melawan Louvre.

Saat itu, ONIC berani keluar dari zona nyaman mereka dengan menggunakan hero yang di luar spesialisasinya. Drian yang dikenal sebagai tanker menggunakan Selena, sedangkan SaSa yang selama ini bermain sebagai carry atau offlaner justru bertukar posisi dengan Drian menggunakan Minotaur.

 
 
 

View this post on Instagram

A post shared by ONIC.Drian (@driandlarsen) on

Kali ini, semua berbuah manis bagi ONIC. Drian terbukti sangat lihai menggunakan Selena. Begitu juga dengan SaSa yang menjalankan tugasnya dengan baik dengan Minotaur-nya.

Saat game sudah berjalan, ONIC juga dikenal mampu menjalin komunikasi antaranggota tim serta menjalankan rotasi dengan sangat baik. Mereka juga selalu mampu bermain dengan aman dan menghindari kesalahan tidak penting.

Semua anggota ONIC bisa dibilang bermain lebih efektif dibanding lawannya. Psychoo selalu brilian dalam membuka map tanpa harus terciduk. Drian punya peran yang cukup penting untuk mencuri kill Lord atau Turtle dari lawan. Udil dan SaSa sebagai hitter selalu tanpa pandang bulu saat menghabisi lawan. Di sisi lain, AntiMage sebagai Assassin bermain aman dan mampu melakukan farm untuk mengejar networth.

 

Diakui dan Disegani oleh Lawan

Tak hanya dibuktikan dengan prestasi dan raihan trofi, kemampuan ONIC sebagai tim dan para pemainnya sebagai individu mendapat apresiasi dari para lawan yang juga merupakan kawan di skena esports Mobile Legends Indonesia.

Selama ini, mereka yang telah merasakan digdaya ONIC melayangkan pujian kepada Udil dan kawan-kawan. Salah satunya datang dari tim yang dua kali dibantai di partai final, yakni Louvre. Gerald “Jeel” Bellamino, offlaner Louvre, mengatakan bahwa ONIC adalah tim muda yang tak hanya berbakat, tapi juga kompak dan fokus di segala turnamen yang mereka ikuti.

Win streak 10 turnamen bukannya tanpa alasan. Mereka selalu kompak dan fokus setiap kali bertanding. See you on top, ONIC!” ungkap Jeel kepada KINCIR.

Kapten tim Aerowolf, Joshua “LJ” Darmansyah, juga mengungkap kekaguman yang tak jauh beda dari Jeel. Menurutnya, ONIC sebagai tim yang beranggotakan pemain berusia muda takkan bisa sukses jika tidak memiliki mental yang kuat.

“Walaupun player-nya masih muda, mereka punya mental yang kuat. Semua dibarengi dengan skill individu yang matang dan dibungkus kerja sama tim yang baik. Mereka terlalu perfect,” ujar LJ saat ditanya soal ONIC.

Ahmad “Maungzy” Abdurrahman pun punya pendapatnya sendiri. Pemain Alter Ego yang sempat diisukan kesal dengan para pemain ONIC ini pun turut mengutarakan pendapatnya. Bagi salah satu Duta Piala Presiden Esports 2019 ini, ONIC adalah tim yang hebat karena semua pemainnya saling menutupi kelemahan satu sama lain.

“Mereka kompak karena bisa saling menutupi kelemahan antara satu dengan yang lain,” ujar Maungzy.

Melihat dominasi ONIC saat ini, mereka pun berpeluang besar membawa pulang trofi MSC 2019 ke Tanah Air. Untuk itulah seluruh penggemar Mobile Legends di Indonesia berharap mereka mampu melakukannya. Harapan yang sama pun diutarakan oleh Jonathan “Emperor” Liandi sebagai salah satu pemain senior di skena esports Mobile Legends di Indonesia.

“Tidak bisa dimungkiri Udil dan kawan-kawan merupakan pemain muda yang sangat berbakat dan berpeluang besar untuk menjadi yang terbaik di dunia,” tutur Emperor.

 

Dominasi ONIC, Sampai Kapan Bertahan?

Apa yang diraih ONIC selama setahun terakhir memang luar biasa. Terutama di skena Nasional yang mereka berhasil lakukan tanpa cela. Bahkan, untuk saat ini, tidak ada tim di Indonesia yang masuk kategori rival terberat.

PSG.RRQ yang sempat dianggap sebagai tim terbaik di Tanah Air pun jatuh dengan sendirinya. Louvre dan Aerowolf yang digadang-gadang akan menghadang dominasi ONIC pada akhirnya juga tak mampu melakukannya. Begitu pun dengan tim-tim muda seperti Alter Ego atau SFI yang saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan menjatuhkan sang raja dari singgasana.

Sejujurnya, masih sangat prematur untuk menyebut ONIC “ada di atas langit”. Mereka memang dominan di level nasional. Namun, kemampuan mereka sejatinya belum benar-benar teruji di level internasional.

Dalam beberapa bulan ke depan, ada MSC 2019 yang akan menjadi ajang pembuktian bagi ONIC bahwa mereka layak berada di atas “langit”. Perjalanan Udil dan kawan-kawan untuk menembusnya tidak akan mudah. Persaingan dari negara-negara tetangga tentu menjadi rintangan yang harus dilewati.

Dari negeri seberang, Geek Fam dan EVOS SG bukanlah tim yang bisa diremehkan begitu saja. Begitu juga dengan tim-tim dari Filipina yang selama ini menjadi batu sandungan bagi tim-tim Indonesia. Terutama, BREN Esports yang memiliki banyak kesamaan dengan ONIC.

ONIC bukannya tanpa harapan dan pasti akan tumbang di level internasional. Pengalaman mengikuti MSL Invitational yang belum lama ini mereka menangkan tentu jadi bekal. Skuat NV yang dulu diperkuat Udil, SaSa, dan Psychoo juga pernah membuat BREN Esports hampir menanggung malu di partai final SEACA.

ONIC juga masih termotivasi untuk memenangkan semuanya saat ini. Sejak awal, manajemen menargetkan untuk memenangkan pertandingan di setiap pertandingan yang mereka ikuti. Target setinggi-tingginya terus dicanangkan untuk Udil dan kawan-kawan.

“Saya ingin mereka terus menang. Jika semua orang bilang 'ONIC terus yang juara, bosan', saya akan berhenti mendorong mereka,” lanjut RCK.

Selama mereka masih termotivasi, akan sulit bagi tim lain untuk merebut gelar skuat Mobile Legends terbaik dari Udil dan kawan-kawan. Namun, bagaimana jika pada akhirnya mereka sudah tidak lagi termotivasi?

 
 
 

View this post on Instagram

=ONIC MLBB RESULTS YTD= ONIC ESPORTS ????CHAMPION???? @udilsurbakti @teguhsaputra420 @bensasak_ @maxhill.leonardo @driandlarsen Congrats boys!!! Special credits to: @m.rdwannn @mhmd_aguss – – – @vidiodotcom @dana.id @rider_underwear @asusrog.id @biznethome @stracingco – – – #ONICESPORTS #ONICMLBB #GOONIC #SONIC #ONICVIDIO #ONICDANA #ONICRIDERSPORTS #ONICROG #ONICPakeBiznet #PakeBiznet

A post shared by ONIC (@onic.esports) on

Tak ada gading yang tak retak. Ambil contoh BREN Esports dan PSG.RRQ yang sempat dianggap sempurna pun pada akhirnya jatuh dengan sendirinya setelah tak ada lagi yang bisa diraih. Hal yang sama juga bisa berlaku buat ONIC. Semua akan sirna bila tekad untuk menjadi yang terbaik pupus.

Udil dan kawan-kawan pun harus mewaspadai kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Kemungkinan kejutan dari tim-tim pendatang baru di skena nasional tetap ada. Tim-tim veteran yang selama ini menjadi bahan bulan-bulanan ONIC pun tentu punya tekad kuat untuk menjatuhkan mereka.

Ajang MSC 2019 yang akan berlangsung pada 19—23 Juni 2019 menjadi acuan. Jika mereka memenangkan semuanya, ada kemungkinan motivasi mereka untuk menang akan turun. Terlebih jika ekosistem esports Mobile Legends mandek di level Asia Tenggara saja.

***

Sejak ekosistem esports Mobile Legends Tanah Air berkembang, tak ada tim yang benar-benar mendominasi layaknya ONIC. Bahkan, kejayaan PSG.RRQ beberapa waktu sebelumnya tidak sampai bisa dikatakan sebagai "dominasi". Masih ada persaingan dari tim-tim lain yang termotivasi untuk mengalahkan sang raja.

Udil dan kawan-kawan berhasil menurunkan sang raja dari singgasananya dan merebut takhta. Kali ini ada yang berbeda. ONIC tampak tidak kesulitan meski seberat apa pun usaha yang dilakukan oleh para pesaingnya.

Yap, ONIC cuma bisa dikalahkan oleh diri mereka sendiri. Setidaknya, untuk saat ini. Selagi mereka bisa melakukannya, langit pun takkan bisa menahannya.

Bagaimana menurut kalian soal dominasi ONIC di kancah kompetitif Mobile Legends di Indonesia? Bisakah mereka bertahan dalam jangka waktu lama? Yuk, berikan opini kalian di kolom komentar di bawah ini!

Stay Updated!
Tetap terhubung di media sosial supaya cepat dapat pembaruan.